Risiko Demensia Meningkat pada Perempuan Menjelang Menopause
Keseimbangan mental dan emosional menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup perempuan, terutama saat memasuki usia emas.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Risiko demensia pada perempuan meningkat saat memasuki fase pre-menopause dan menopause akibat penurunan hormon estrogen yang berperan menjaga fungsi otak
- Para ahli menekankan pentingnya pendekatan holistik melalui nutrisi, kualitas tidur, manajemen stres, keseimbangan hormon, dan olahraga terstruktur
- Upaya ini dinilai krusial untuk menjaga kesehatan kognitif dan kualitas hidup perempuan di usia lanjut.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Risiko demensia pada perempuan meningkat seiring memasuki fase pre-menopause dan menopause. Kondisi ini terutama dipicu oleh penurunan hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga fungsi otak, memori, serta kemampuan konsentrasi.
Penurunan kadar estrogen kerap memunculkan keluhan kognitif yang sering dialami perempuan, seperti mudah lupa, sulit fokus, hingga brain fog.
Head of Wellness Clinic & Medical Doctor Seraphim, dr. Febby Astari, IFMCP, menjelaskan bahwa menjaga kesehatan otak perlu dilakukan melalui pendekatan wellness yang menyeluruh.
“Meski sering dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan, keluhan tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kognitif yang lebih serius apabila tidak diantisipasi melalui penerapan pola hidup sehat serta deteksi dan intervensi sejak dini,” kata dr. Febby saat health talk bertajuk Bebas Demensia di Usia Emas – Otak Sehat untuk Hidup Berkualitas di Tangerang, belum lama ini.
Acara yang digelar Seraphim Medical Center bersama Bethsaida Hospital tersebut turut menghadirkan dr. Andriana Kumala Dewi, Sp.OG, Subsp. FER, dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus konsultan Fertility Endocrine Reproduction Bethsaida Hospital; Mia Fitri, Health & Fitness Coach dan Founder NoPauseLife; serta Puni Ayu, Co-Founder NoPauseLife.
Menurut dr. Febby, asupan nutrisi yang tepat, kualitas tidur yang baik, serta manajemen stres yang optimal berperan besar dalam mempertahankan fungsi kognitif.
“Selain itu, intervensi preventif sejak dini dinilai penting untuk menurunkan risiko demensia di masa mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Andriana Kumala Dewi memaparkan bahwa perubahan hormonal pada fase peri-menopause dan pascamenopause memiliki dampak signifikan terhadap fungsi kognitif perempuan.
“Oleh karena itu, diperlukan tata laksana medis yang tepat dan terarah untuk menjaga keseimbangan hormon serta meminimalkan dampak penurunan fungsi otak,” katanya.
Dari sisi gaya hidup, Health & Fitness Coach Mia Fitri menekankan pentingnya aktivitas fisik dan olahraga terstruktur.
Aktivitas fisik dinilai mampu meningkatkan aliran darah ke otak, memperbaiki metabolisme tubuh, serta mendukung neuroplastisitas yang berperan penting dalam menjaga daya ingat dan kemampuan berpikir.
Melengkapi paparan tersebut, Co-Founder NoPauseLife Puni Ayu menggarisbawahi peran mindset positif, manajemen stres, dan kesehatan emosional dalam mempertahankan kejernihan berpikir.
Menurutnya, keseimbangan mental dan emosional menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup perempuan, terutama saat memasuki usia emas.
Melalui pendekatan terintegrasi antara aspek medis, gaya hidup aktif, dan kesehatan mental, upaya pencegahan demensia pada perempuan diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal, sehingga perempuan tetap sehat, fokus, dan produktif di setiap fase kehidupannya.