Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

BGN Minta SPPG Setop Pakai Makanan Pabrik Besar, Wajib Prioritaskan Buatan Warga Sekitar

BGN meminta SPPG menyetop penggunaan makanan dari pabrik. Bahan makanan untuk menu MBG dipakai diminta buatan warga sekitar.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in BGN Minta SPPG Setop Pakai Makanan Pabrik Besar, Wajib Prioritaskan Buatan Warga Sekitar
Instagram @nanik_deyang
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang menyalami sejumlah siswa di salah satu sekolah Dasar (SD) saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Senin, 21 April 2025.Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang meminta, Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) menyetop penggunaan makanan dari pabrik. 

Ringkasan Berita:
  • BGN meminta penghentian penggunaan makanan dari pabrik pada menu makanan MBG. 
  • Sebaliknya di dapur MBG harus mengolah makanan produksi warga sekitar. 
  • Bukan lagi roti dari produsen besar, SPPG wajib prioritaskan buatan UMKM atau ibu-ibu PKK. 

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang meminta, Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) menyetop penggunaan makanan dari pabrik.

SPPG wajib memprioritaskan buatan warga setempat.

Baca juga: BGN Evaluasi Rekrutmen Sopir SPPG, Tabrak Siswa saat Antar MBG di Jakut, Diduga Salah Injak Gas

Hal ini didasari pada Pasal 38 ayat 1 Peraturan Presiden (Perpres) nomor 115 tahun 2025.

Disebutkan bahwa Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri dan pelibatan usaha mikro, usaha kecil, perseroan perorangan, koperasi, koperasi desa/kelurahan merah putih, dan BUM Desa.

Rekomendasi Untuk Anda

“Jangan lagi pakai biskuit, roti dari perusahaan besar. Semua makanan harus diproduksi warga sekitar dapur, baik itu UMKM, maupun oleh ibu-ibu PKK,” kata Nanik dalam keterangannya ditulis di Jakarta, Sabtu (13/12/2025).

Seperti di Bogor, kata Nanik, ada SPPG yang rotinya dibuat oleh ibu-ibu orangtua siswa sekolah.

Baca juga: Tahu Goreng Isi Plester Luka dalam Menu MBG di Sukabumi, Keras saat Digigit, SPPG Minta Maaf

Mereka juga membuat bakso rumahan, nugget homemade, rolade homemade, dan sebagainya.

Semua memang harus memiliki izin PIRT (Produksi Pangan Industri Rumah Tangga).

PIRT adalah izin edar bagi produk makanan atau minuman olahan yang diproduksi industri rumah tangga atau UMKM.

MENU MBG - Ini menu MBG nasi goreng yang diduga jadi penyebab belasan pelajar mengalami keracunan, muntah dan mual usai mengkonsumsi menu MBG di SDN Margamulya, Jumat (17/10/2025).
MENU MBG - Ini menu MBG nasi goreng  di SDN Margamulya, Jumat (17/10/2025). (TribunPriangan/Jaenal Abidin)

PIRT diterbitkan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atas rekomendasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Izin berlaku untuk produk makanan dan minuman dengan risiko rendah hingga menengah.

Karena itu Nanik meminta kepada Pemerintah Daerah untuk memberikan kemudahan dalam pengurusan izin PIRT.

“Tolong Pak Wali, Bu Wawali, Dinkes, dipermudah izin PIRT-nya, untuk usaha kecil agar mereka bisa memasok dapur-dapur SPPG,” ujar perempuan berhijab ini.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas