3 Fungsi Pohon Bagi Kesehatan, Lindungi Paru Hingga Turunkan Risiko Penyakit Jantung
Keberadaan pohon tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi memiliki peran langsung terhadap kesehatan manusia.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Adi Suhendi
Ringkasan Berita:
- Keberadaan pohon berkontribusi nyata dalam menurunkan risiko berbagai penyakit kronis
- Deforestasi menyebabkan kualitas udara memburuk
- Pohon berfungsi sebagai penyaring alami polutan udara
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Keberadaan pohon tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi memiliki peran langsung terhadap kesehatan manusia.
Dari sudut pandang medis dan kesehatan masyarakat, pohon disebut sebagai bentuk intervensi kesehatan publik yang alami dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan dokter sekaligus ahli kesehatan lingkungan dan epidemiolog Dicky Budiman.
Ia mengatakan pohon hijau, terutama yang rimbun dan beragam, berkontribusi nyata dalam menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.
Mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit jantung.
Baca juga: Menghidupkan Jakarta Lewat Taman Kota: Dari Rekreasi hingga Interaksi Sosial
“Pohon bukan sekadar simbol lingkungan tapi juga intervensi kesehatan publik yang natural, alami,” kata Dicky dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/12/2025).
Sebaliknya, kebijakan pembangunan yang mengabaikan tutupan hijau dinilai membawa dampak serius bagi kesehatan publik.
Deforestasi menyebabkan kualitas udara memburuk, suhu lingkungan meningkat, serta risiko penyakit paru dan jantung melonjak.
Baca juga: Tukar Sampah Jadi Pohon, Penghijauan Serta Edukasi Sampah Digelar di Taman Kota Jagakarsa
Selain itu, peningkatan suhu ekstrem berpotensi memicu heat stroke dan kematian mendadak saat beraktivitas fisik.
Dampak lain yang tak kalah nyata adalah meningkatnya risiko bencana banjir dan longsor yang memicu trauma fisik, krisis kesehatan mental, hingga wabah penyakit seperti ISPA di lokasi pengungsian.
Dalam jangka panjang, hilangnya hutan dan pohon berkontribusi pada peningkatan penyakit tidak menular, gangguan kesehatan ibu dan anak akibat polusi, hingga melonjaknya beban biaya kesehatan nasional dan daerah.
“Jadi deforestasi itu seperti merokok pasif berskala nasional,” ucapnya.
Ia menyoroti adanya paradoks dalam kebijakan kesehatan saat ini.
Di satu sisi, sistem kesehatan fokus mengobati penyakit, namun di sisi lain membiarkan penyebab ekologis penyakit terus terjadi.
Kota didorong untuk warganya berolahraga, tetapi udara yang dihirup justru beracun.