Kesehatan Pria Masih Terabaikan, Telehealth Hadirkan Jalan Baru
Rendahnya perilaku mencari bantuan dan minimnya keterlibatan dalam layanan pencegahan membuat banyak masalah kesehatan pria terlambat ditangani.
Editor:
Dodi Esvandi
Model layanan ini menekankan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti penilaian dokter.
Untuk kebutuhan obat resep, pengguna tetap melalui konsultasi telemedisin dengan dokter berizin.
Maraknya produk kesehatan pria yang tidak terstandarisasi membuat kepatuhan regulasi menjadi krusial.
Sjati, misalnya, menegaskan komitmen pada aturan BPOM dan etika medis, termasuk mekanisme autentikasi produk serta sistem rekam medis elektronik yang terenkripsi.
Pengguna juga dapat melaporkan efek samping kapan saja, dan kasus dengan gejala yang dinilai mengkhawatirkan ditinjau oleh dokter untuk penyesuaian terapi, rekomendasi penghentian bila diperlukan, atau rujukan perawatan lanjutan.
Langkah ini diharapkan dapat mendorong percakapan yang lebih terbuka mengenai kesehatan pria, sekaligus menjadikan telehealth sebagai pilihan rasional bagi mereka yang membutuhkan layanan cepat, privat, dan aman.
“Di Sjati, kami juga turut mendorong percakapan yang lebih terbuka dan terinformasi mengenai kesehatan pria, termasuk kesehatan seksual, sebagai isu yang umum dialami dan layak ditangani secara bertanggung jawab. Kami berharap langkah mencari bantuan, termasuk melalui layanan telehealth dapat dipandang sebagai pilihan yang sehat dan rasional untuk merawat diri,” tutup Delonix.
Baca tanpa iklan