Tutup 2025, Pakar Kesehatan Peringatkan Alarm Serius untuk Siap Hadapi Krisis Berikutnya
Tahun 2025 bukan akhir dari ancaman kesehatan. |Perlu paradigma baru untuk siap hadapi krisis kesehatan
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- 2025 bukan akhir dari ancaman kesehatan.
- Tahun ini menjadi cermin keras bahwa Indonesia dan dunia belum benar-benar siap menghadapi krisis kesehatan berikutnya.
- Krisis akan terjadi jika masih memakai pola lama. Maka perlu perubahan paradigma.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tahun 2025 bukan akhir dari ancaman kesehatan.
Justru sebaliknya, tahun ini menjadi cermin keras bahwa Indonesia dan dunia belum benar-benar siap menghadapi krisis kesehatan berikutnya jika pola lama terus dipertahankan.
Baca juga: Krisis Kesehatan Pascabencana Aceh Terparah: Nyawa Ibu Hamil Terancam, Dokter Kelaparan
Dokter epidemiolog dan pakar global health security, Dicky Budiman, menegaskan bahwa pesan kesehatan paling penting di penghujung 2025 adalah perubahan paradigma.
Kesehatan tidak lagi cukup dipahami sebagai layanan rumah sakit, tetapi sebagai ketahanan bersama yang harus dibangun jauh sebelum krisis datang.
“Tahun 2025 bisa kita baca sebagai tahun transisi dari respon menuju ketahanan atau resilience,"ungkap Dicky pada Tribunnews, Selasa (30/12/2025).
Menurut Dicky, dunia memang sudah keluar dari fase krisis akut pandemi.
Namun, kondisi itu sering disalahartikan sebagai situasi aman.
Baca juga: Menko PMK Minta Dunia Usaha Jadi Garda Terdepan Atasi TBC, Stunting dan Krisis Kesehatan Mental
Padahal, risiko kesehatan baru justru terus bermunculan, mulai dari penyakit infeksi, polusi, hingga dampak cuaca ekstrem yang makin sering terjadi.
Di tingkat masyarakat, ia melihat fenomena hidup berdampingan dengan risiko, tetapi tanpa perubahan perilaku yang kuat.
Kepatuhan terhadap protokol kesehatan masih bersifat situasional, muncul saat ada lonjakan kasus atau isu viral, lalu menghilang ketika situasi dianggap normal.
Kebiasaan dasar seperti mencuci tangan, memakai masker saat sakit, atau waspada di kerumunan belum menjadi budaya yang melekat.