Viral Istilah Super Flu, Pakar Sebut Ini Bukan Flu Biasa, Tapi Juga Bukan Virus Baru
Istilah super flu kerap memicu kekhawatiran publik karena dianggap sebagai penyakit baru yang lebih berbahaya dibanding flu biasa.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Istilah super flu kerap memicu kekhawatiran.
- Super flu dianggap sebagai penyakit baru yang lebih berbahaya dibanding flu biasa.
- Pakar menjelaskan bagian dari evolusi virus influenza yang sudah lama ada dan terus bermutasi dari tahun ke tahun.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Istilah super flu kerap memicu kekhawatiran publik karena dianggap sebagai penyakit baru yang lebih berbahaya dibanding flu biasa.
Padahal, secara ilmiah, kondisi ini memiliki karakter yang berbeda dari persepsi masyarakat.
Baca juga: Super Flu Vs Flu Biasa, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Epidemiolog soal Gejala dan Risiko
Dokter sekaligus Epidemiolog Dicky Budiman menegaskan bahwa super flu bukanlah penyakit baru, melainkan bagian dari evolusi virus influenza yang sudah lama ada dan terus bermutasi dari tahun ke tahun.
“Jadi sebenarnya virusnya bukan virus baru. Tapi turunannya, jadi mutasinya yang baru. Tapi secara prinsip dia bukan virus baru, bukan penyakit baru,” jelas Dicky pada program Tribunnews On Focus di kanal YouTube Tribunnews, Selasa (6/12/2025).
Mengapa Disebut Berbeda dari Flu Biasa?
Perbedaan utama super flu dan flu biasa terletak pada karakter mutasi virus dan dampaknya pada populasi, bukan pada status penyakitnya.
Virus influenza memang memiliki kemampuan bermutasi tinggi, mirip dengan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.
Baca juga: Ramai Super Flu, Menkes dan Dokter Sebut Bukan Virus Baru, Masyarakat Jangan Panik! Ini Flu Musiman
Meski bermutasi, sistem kekebalan tubuh manusia tidak sepenuhnya kehilangan perlindungan.
Sebagian besar orang telah memiliki imunitas dasar dari paparan sebelumnya atau melalui vaksinasi influenza.
Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa pada kelompok usia muda, gejala super flu sering kali berlangsung singkat dan relatif ringan.
“Sehingga kenapa tadi mayoritas orang muda mungkin masih di bawah 60-an itu masih sebentar saja terinfeksinya,” ujar Dicky.
Pada kelompok ini, gejala umumnya mereda dalam dua hingga tiga hari dengan istirahat cukup, asupan nutrisi baik, dan hidrasi optimal.
Berbeda dengan flu biasa yang sering dianggap remeh, super flu tetap perlu diwaspadai karena tingkat penularannya tinggi.
Kekebalan Sudah Ada, Tapi Tidak Hilang Total
Flu biasa dan super flu sama-sama disebabkan oleh virus influenza, namun super flu merupakan hasil mutasi terbaru yang lebih mudah menyebar.
Meski demikian, mutasi ini tidak serta-merta menghapus kekebalan yang sudah dimiliki masyarakat.
Kekebalan parsial inilah yang menjadi alasan super flu tidak berpotensi menjadi pandemi baru.
Sebagian besar populasi sudah memiliki memori imun, terutama mereka yang rutin mendapatkan vaksin influenza.
Dicky mencontohkan pengalamannya sebagai individu dengan risiko tinggi karena intensitas pertemuan dengan banyak orang dan lingkungan fasilitas kesehatan.
“Tapi saya divaksin dan vaksin inilah yang melindungi. Vaksin apa ya? Vaksin influenza,” katanya.
Penularan Super Flu Lebih Cepat dari Flu Biasa
Jika dibandingkan dengan flu biasa, super flu memiliki laju penularan yang lebih agresif, terutama di ruang tertutup dan padat manusia.
Pola penularannya mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas lainnya, termasuk COVID-19.
Penularan terjadi melalui droplet saat berbicara, batuk, atau bersin dalam jarak dekat.
Selain itu, permukaan benda yang terkontaminasi lendir hidung atau tangan yang tidak bersih juga menjadi sumber penyebaran.
Kondisi transportasi umum yang padat, ventilasi buruk, serta etika kebersihan yang rendah memperbesar risiko penularan, bahkan pada orang yang merasa sehat.
Tetap Waspada Tanpa Panik
Perbedaan krusial antara flu biasa dan super flu terlihat jelas pada kelompok rentan. Lansia, anak kecil, serta individu dengan penyakit penyerta lebih berisiko mengalami komplikasi berat jika terinfeksi super flu.
Infeksi yang berulang juga menjadi perhatian serius. Paparan virus influenza secara berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang, meskipun pada awalnya gejala tampak ringan.
Karena itu, pencegahan tetap menjadi langkah utama, bahkan bagi kelompok usia muda yang merasa memiliki daya tahan tubuh kuat.
Kesimpulannya, super flu bukan penyakit baru dan bukan mutasi berbahaya yang tak terkendali seperti pandemi.
Namun, perbedaannya dengan flu biasa terletak pada kecepatan penularan, dominasi varian mutasi, dan dampaknya pada kelompok berisiko.
Masyarakat diimbau tidak bersikap panik, tetapi juga tidak meremehkan.
Disiplin pencegahan, menjaga kebersihan, dan mempertimbangkan vaksinasi influenza tetap menjadi kunci untuk melindungi diri dan keluarga dari risiko yang lebih berat.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.