Musim Super Flu, Perlu atau Tidak Vitamin Tambahan untuk Anak?
Banyak orang tua menjadikan vitamin tambahan sebagai salah satu upaya untuk melindungi anak dari infeksi saat super flu merebak.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:Saat super flu merebak, banyak orang tua menjadikan vitamin tambahan sebagai upaya perlindungan anak.Perlukah vitamin tambahan?Kebutuhan vitamin pada setiap anak tidak bisa disamaratakan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah merebaknya isu influenza A (H3N2) subclade K yang dikenal masyarakat sebagai super flu, banyak orang tua menjadikan vitamin tambahan sebagai salah satu upaya untuk melindungi anak dari infeksi.
Baca juga: Super Flu Akankah Jadi Pandemi Baru? Begini Kata Epidemiolog
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof Cissy Rahyana Sujana Prawirakarta Sasmita mengingatkan bahwa vitamin berperan sebagai pelengkap bukan fondasi utama.
Kebutuhan vitamin pada setiap anak tidak bisa disamaratakan atau perlu dilihat individual, terutama jika asupan sehari-hari anak sudah sangat baik.
Baca juga: Seperti COVID-19, Super Flu Berbahaya Bagi Lansia dan Anak di Bawah 2 Tahun
“Kalau makannya sudah baik, sayur, buah, karbohidrat, protein, lemak semua seimbang. Ya mungkin tidak perlu,” kata dia dalam talk show on Focus, Tribunnews.com.
Namun dalam praktiknya, ada saja anak yang tidak memiliki pola makan ideal, misalnya anak susah makan atau menolak jenis makanan tertentu sehingga membuat asupan gizinya tidak optimal, maka vitamin tambahan boleh diberikan.
“Namun kalau dianggap anak susah makan, itu boleh ditambah vitamin tambahan yang berguna,” tambah Prof Cissy.
Ia mengingatkan, pemberian vitamin tambahan bukanlah sebuah keharusan tetapi pelengkap.
Beberapa vitamin yang bisa diberikan untuk daya tahan tubuh anak adalah vitamin C dan D.
“Multivitamin itu tidak utama. Utamanya adalah makanan bergizi yang seimbang itu yang penting. Jadi tidak perlu tiba-tiba diberikan vitamin yang lain. Tapi yang penting adalah minum yang cukup banyak, istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan anak di musim hujan yang rentan flu ini,” pesan Prof Cissy.
Dari laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), kasus super flu banyak dialami oleh anak-anak.
Prof Cissy menerangkan, kondisi ini dikarenakan imun anak-anak belum terbentuk optimal sehingga mudah terserang virus dan bakteri.
"Karena memang faktor imunitas tentunya ya. Anak-anak itu memang harus dijaga betul-betul dari penyakit infeksi itu," jelas dia.
Adapun gejala super flu ini bisa berupa demam di atas 38 derajat Celcius, nyeri otot dan badan, pilek, batuk, hidung tersumbat, serta lemas.
Pada anak-anak, bisa disertai muntah dan diare.
“Super flu tetap bisa menjadi berat. Kalau daya tahan anaknya itu tidak baik kemudian terlambat untuk memberikan pengobatannya. Kemudian juga ada penyakit penyertanya," tutur dia.
Baca tanpa iklan