Anak Sudah Makan Tiap Hari, Tapi Gizinya Belum Tentu Cukup, Dokter Jelaskan Kuncinya
Anak makan tiap hari belum tentu gizinya cukup. Kunci utamanya ada pada komposisi seimbang dan pengenalan makanan sejak dini.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Dokter gizi klinik menegaskan makan rutin saja belum menjamin gizi anak terpenuhi tanpa komposisi seimbang.
- Pemenuhan gizi perlu mencakup makanan pokok, protein, sayur, dan buah serta pengenalan makanan beragam sejak dini.
- Pola makan seimbang, bertahap, dan pemantauan kesehatan menjadi kunci tumbuh kembang anak tanpa bergantung suplemen.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orangtua merasa tenang ketika anak sudah makan setiap hari.
Namun, rutinitas makan saja belum cukup menjamin kebutuhan gizi anak terpenuhi secara optimal.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, menegaskan bahwa tantangan utama pemenuhan gizi anak bukan semata pada jenis makanan mahal atau rumit.
Melainkan pada komposisi yang seimbang dan proses pengenalan yang tepat sejak dini.
Dalam konteks makanan harian anak, termasuk bekal makan di rumah, Diana menjelaskan bahwa prinsip dasarnya sebenarnya sederhana dan dapat disesuaikan dengan usia anak.
“Sebenarnya sih kalau bekal itu atau yang makanan dikonsumsi sehari anak-anak itu, kita bisa sesuaikan aja bahwa dia ada makanan pokoknya. Ada sumber proteinnya, hewani maupun abati. Kemudian dia ada sayur-mayur dan buah,” ujar Diana saat ditemui di bilangan Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Baca juga: Tidak Cukup Sekadar Ada Sayur di Piring, Ini Kesalahan Gizi Anak yang Sering Terjadi
Menurutnya, porsi tidak perlu besar karena kebutuhan anak memang masih sedikit.
Namun, kelengkapan unsur gizi dalam piring anak menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Lebih dari sekadar jumlah, fondasi terpenting dalam pemenuhan gizi anak adalah pengenalan terhadap makanan yang beragam.
Tanpa proses ini, anak berisiko tumbuh menjadi picky eater dan hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu.
“Yang terpenting memang pada anak-anak sudah diberikan fondasi bahwa mereka mengenal makanan, mengenal beragam makanan. Jadi tidak jadi picky eater hanya makan makanan tertentu aja,” jelasnya.
Diana menekankan bahwa perbaikan pola makan anak harus dilakukan secara bertahap.
Salah satu aspek yang kerap luput diperhatikan orang tua adalah kesiapan anak secara fisik, terutama kemampuan mengunyah.
Jika kemampuan mengunyah belum optimal, orang tua dianjurkan memulai dari tekstur makanan yang sederhana, lalu secara perlahan meningkatkan konsistensinya.
Proses ini berjalan seiring dengan pengenalan jenis makanan baru, tanpa paksaan.
Selain faktor kebiasaan makan, kondisi kesehatan anak juga perlu menjadi perhatian.
Gangguan pencernaan atau masalah klinis tertentu dapat memengaruhi nafsu makan dan penyerapan zat gizi.
Dalam kondisi tersebut, evaluasi medis menjadi langkah penting, apakah diperlukan pengobatan atau cukup dengan penyesuaian komposisi makanan.
Diana menegaskan bahwa evaluasi tumbuh kembang anak tidak dibatasi oleh usia tertentu.
Sejak lahir, pemantauan sudah harus dilakukan, dimulai dari pemenuhan ASI hingga pemantauan pertumbuhan melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Baca juga: BGN Tegaskan Menu MBG Saat Libur Sekolah Bebas UPF, Tetap Mengacu Gizi Seimbang
Dalam upaya pencegahan masalah gizi, Diana mengingatkan bahwa pendekatan yang sering keliru adalah fokus langsung pada suplemen atau zat gizi mikro, tanpa memastikan kecukupan zat gizi makro.
“Gisi seimbang dulu baru pelengkapannya adalah zat gisi mikro. Jadi kita tidak bisa mencegah dari mikro dulu terus berkembang ke makro, nggak bisa,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa kekurangan zat gizi mikro sering kali berjalan seiring dengan kekurangan zat gizi makro.
Karena itu, memperbaiki pola makan harian secara menyeluruh menjadi fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.
Dengan pola makan yang seimbang, pengenalan makanan yang bertahap, serta pemantauan kesehatan yang konsisten, kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi tanpa harus bergantung pada cara instan.
Prinsip sederhana inilah yang dinilai menjadi kunci penting membangun kualitas kesehatan anak sejak usia dini.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.