Enam Persen Bayi Indonesia Lahir dengan Berat Badan Rendah, Berisiko Stunting
Bayi dengan berat lahir rendah yang berpotensi menghadapi risiko kesehatan lanjutan, termasuk stunting.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Bayi dengan berat lahir rendah yang berpotensi menghadapi risiko kesehatan lanjutan, termasuk stunting.
- Berdasar hasil pemeriksaan bayi usia dua hari, sekitar 6 persen bayi tercatat memiliki berat lahir di bawah 2,5 kilogram.
- Bayi yang lahir dengan berat rendah tetap memiliki peluang tumbuh optimal jika mendapatkan perawatan yang tepat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hasil pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 pada kelompok bayi baru lahir menunjukkan masih adanya persoalan kesehatan dasar yang perlu mendapat perhatian serius sejak awal kehidupan.
Salah satu temuan utama adalah bayi dengan berat lahir rendah yang berpotensi menghadapi risiko kesehatan lanjutan, termasuk stunting.
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa dari data pemeriksaan bayi usia dua hari, sekitar 6 persen bayi tercatat memiliki berat lahir di bawah 2,5 kilogram.
“Jadi kalau kita lihat pada kelompok bayi baru lahir, ini pertama persentase yang cukup tinggi adalah bayi yang berat lahirnya rendah pada saat umur 2 hari,” ujar Maria Endang pada konferensi pers virtual Capaian dan Evaluasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Serta Rencana CKG 2026, Jumat (23/1/2026).
Bayi dengan berat lahir rendah atau bayi kecil memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan pada periode berikutnya.
Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya pencegahan sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin dan pemenuhan gizi seimbang.
ASI Rutin dan Kontrol Berkala
Maria Endang menjelaskan, bayi yang lahir dengan berat rendah tetap memiliki peluang tumbuh optimal jika mendapatkan perawatan yang tepat.
Pemberian ASI secara teratur setiap dua hingga tiga jam serta pemeriksaan rutin minimal sebulan sekali menjadi kunci untuk mengejar pertumbuhan berat badan bayi.
Baca juga: Persiapan Generasi Bebas Stunting, PERSAGI Usulkan Pendekatan Gizi hingga Usia 19 Tahun
Data bayi baru lahir dengan berat badan rendah yang tercatat dan masuk dalam sistem Puskesmas mencapai sekitar 390 ribu bayi.
Masih Ditemukan Kelainan Bawaan
Selain berat lahir rendah, CKG 2025 juga menemukan sejumlah kelainan bawaan pada bayi. Tiga kelainan yang paling banyak terdeteksi adalah kekurangan enzim pelindung sel darah merah, penyakit jantung bawaan kritis, dan kekurangan hormon tiroid.
Penyakit jantung bawaan kritis terjadi akibat struktur jantung atau pembuluh darah besar yang tidak normal sejak lahir dan memerlukan tindakan operasi. Kondisi ini diduga berkaitan dengan faktor yang terjadi selama masa kehamilan.
Baca juga: Edukasi Parenting Digital Jadi Cara Baru Cegah Stunting
Sementara itu, kekurangan hormon tiroid pada bayi menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada kualitas tumbuh kembang jangka panjang.
Baca tanpa iklan