Psikolog Tekankan Pentingnya Keamanan Emosional Anak di Sekolah
Faktor penting yang sering luput diperhatikan, yaitu rasa aman dan kenyamanan emosional anak. Tanpa itu, anak justru bisa kehilangan semangat.
Penulis:
willy Widianto
Editor:
Wahyu Aji
Anak belajar mengenali kekuatan dan area yang masih perlu berkembang, serta memahami bahwa gagal tidak sama dengan tidak berharga. Dari proses inilah kepercayaan diri yang sehat terbentuk.
“Model reflektif mengajarkan anak satu hal penting bahwa ‘aku bukan hanya nilai, aku adalah proses’,” ujar Anastasia.
Pendekatan ini juga menjadi dasar bagi sekolah-sekolah yang berupaya membangun pengalaman belajar yang lebih baik.
Salah satunya adalah North Jakarta Intercultural School (NJIS), yang menempatkan kesejahteraan emosional (emotional wellbeing) sebagai faktor kunci dalam pembelajaran.
Head of School NJIS, Ezra Alexander, menegaskan bahwa pembelajaran yang bermakna tidak dapat dilepaskan dari kondisi emosional siswa.
“Kami melihat belajar adalah proses yang lebih dari pencapaian akademik, tetapi juga sebagai pengalaman hidup anak di sekolah,” ujarnya.
Menurut Ezra, kurikulum memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman tersebut.
Karena itu, NJIS memilih Kurikulum International Baccalaureate (IB), yang sejak awal dirancang untuk menyeimbangkan tantangan intelektual dengan refleksi dan rasa aman emosional.
“Kurikulum yang kami terapkan memberi ruang bagi setiap anak untuk merasa cukup aman berkata ‘aku belum bisa’, lalu cukup percaya diri untuk mencoba lagi. Di situlah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi,” kata Ezra.
Sekolah perlu hadir sebagai ruang aman yang menghargai proses, tidak memberi stigma pada kesalahan, serta tidak memuja capaian akademik.
Dalam pandangan Ezra, masa depan pendidikan harus dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar emosional dalam membentuk pribadi anak secara menyeluruh.
Baca juga: Fokus Pendidikan Bergeser, Siswa Perlu Fokus pada Adaptabilitas, Bukan Sekadar Nilai Akademik
“Pendidikan ke depan tidak bisa berjalan timpang, ia harus menyeimbangkan kemampuan intelektual dengan kesadaran diri, kematangan emosional, dan nilai-nilai kemanusiaan agar anak benar-benar tumbuh sebagai manusia seutuhnya,” kata Ezra.
Baca tanpa iklan