Hasil Uji Coba Skrining DNA HPV dengan Model Hub-and-Spoke di Jawa Timur
hasil uji coba skrining DNA HPV dengan model hub-and-spoke dengan pengambilan sampel mandiri di provinsi Jawa Timur.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Kemenkes RI bersama mitra menguji skrining DNA HPV model hub-and-spoke di Jawa Timur untuk memperkuat deteksi dini kanker serviks.
- Uji coba menjangkau lebih dari 6.400 perempuan di Surabaya dan Sidoarjo dengan tingkat partisipasi 75 persen.
- Hasil uji coba menjadi dasar penguatan jejaring laboratorium nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) bersama Jhpiego Indonesia, Roche Diagnostics Indonesia, dan Bio Farma memaparkan hasil uji coba skrining DNA HPV dengan model hub-and-spoke dengan pengambilan sampel mandiri di provinsi Jawa Timur.
Diseminasi Nasional ini digelar di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).
HPV DNA adalah pemeriksaan untuk mendeteksi materi genetik (DNA) dari virus HPV, terutama tipe risiko tinggi yang bisa menyebabkan kanker serviks.
Proyek percontohan ini dikembangkan untuk menguji penerapan skrining kanker serviks yang efektif dan berkelanjutan dalam layanan kesehatan primer sesuai kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP).
Model hub-and-spoke ini menghubungkan laboratorium berkapasitas tinggi di wilayah perkotaan (hub) dengan fasilitas kesehatan primer dan laboratorium berkapasitas terbatas di wilayah sekitarnya (spoke).
Pendekatan ini bertujuan memperluas jangkauan layanan skrining secara merata dan efisien.
Uji coba dilakukan di dua wilayah yakni Kelurahan Manukan Kulon di Kota Surabaya dan Kecamatan Wonoayu di Kabupaten Sidoarjo pada November 2024 - November 2025.
Hasil di Surabaya, dilakukan melalui pengambilan sampel mandiri (self-sampling) dan menjangkau 5.500 perempuan, atau sekitar 75 persen dari target 7.333 perempuan usia sasaran.
Pendekatan ini diterima dengan baik karena dinilai lebih sederhana dan privat, mengurangi rasa takut, didukung oleh peran aktif kader.
Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kota Surabaya menggunakan sistem molekuler otomatis berkapasitas menengah–tinggi, yang sesuai untuk wilayah dengan volume layanan besar.
Di Kabupaten Sidoarjo, skrining dilakukan melalui pengambilan sampel oleh tenaga kesehatan (provider-sampling) di Puskesmas Wonoayu dan menjangkau 923 perempuan, atau 75 persen dari target 1.230 perempuan usia sasaran.
Pendekatan ini dinilai efektif karena peserta mendapatkan pendampingan langsung dari tenaga kesehatan, penjangkauan aktif melalui kader dan kegiatan komunitas, termasuk di lingkungan kerja.
Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kabupaten Mojokerto menggunakan sistem semi-otomatis dengan memanfaatkan infrastruktur pemerintah yang telah tersedia.
Dari sisi operasional, laboratorium Surabaya mampu memproses hingga 96 sampel per hari, dengan keterlibatan tenaga laboratorium sekitar 33 persen dari total waktu proses, karena sebagian besar tahapan berjalan otomatis.
Laboratorium Mojokerto, dengan volume pemeriksaan yang sebanding, membutuhkan keterlibatan tenaga laboratorium hingga 90 persen dari total waktu proses.
Temuan ini menjadi pembelajaran penting dalam perencanaan penguatan jejaring laboratorium untuk perluasan skrining DNA HPV secara nasional.
Direktur PT Roche Indonesia, Divisi Diagnostik, Lee Poh Seng menekankan, sistem diagnostik yang andal dan terintegrasi dapat meningkatkan efisiensi operasional.
Situasi ini menjadi penting mengingat tingginya beban kanker leher rahim di Indonesia.
Pada 2023 tercatat 36.964 kasus baru dengan lebih dari 21.000 kematian. Tanpa penguatan deteksi dini, kasus diproyeksikan meningkat lebih dari 60 persen pada tahun 2040.
"Studi implementasi ini memberikan bukti penting tentang bagaimana skrining DNA HPV dapat diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer," ujar Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM), Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi dalam paparannya.
Ditambahkan Country Director Jhpiego Indonesia Maryjane Lacoste, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan mitra implementasi menjadi kunci agar program dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, sebagai BUMN Farmasi, Bio Farma berkomitmen mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat deteksi dini kanker leher rahim melalui ekosistem kesehatan yang terintegrasi.
Skrining DNA HPV dengan model hub-and-spoke diharapkan bisa diintegrasikan dengan pembiayaan ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan bisa tercatat pada sistem pencatatan digital untuk memantau kontinuitas layanan secara real-time.
Baca juga: Empat Rumah Sakit Ini Jadi Pusat Pelatihan Penanganan Kanker Serviks
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia diharapkan semakin mendekati target eliminasi kanker leher rahim 2030.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.