Kasus Sedikit, Dampak Bisa Fatal, Ini Mengapa Virus Nipah Perlu Waspada Tinggi
Meski tidak mudah menular, virus ini tetap dipandang sebagai ancaman serius karena dampaknya yang dapat sangat fatal jika tidak terdeteksi sejak dini.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah muncul dua kasus di India, dan meski tidak mudah menular, dampaknya bisa sangat fatal.
- Epidemiolog menyebut Nipah sebagai ancaman low probability, high impact dengan tingkat kematian tinggi jika terlambat terdeteksi.
- Virus ini bukan airborne seperti Covid-19, tetapi tetap berbahaya dan perlu kewaspadaan dini, terutama di fasilitas kesehatan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah dua kasus terkonfirmasi muncul di India.
Meski tidak mudah menular, virus ini tetap dipandang sebagai ancaman serius karena dampaknya yang dapat sangat fatal jika tidak terdeteksi sejak dini.
Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan, karakter virus Nipah berada dalam kategori low probability, high impact, sebuah kondisi yang membuat kewaspadaan ekstra menjadi sangat penting.
“Nipah ini tidak mudah menyebar. Tapi ketika dia lolos deteksi awal, kelabuhan risikonya adalah kematian yang tinggi atau case fatality rate yang sangat tinggi bahkan, sampai 75 persen,” kata Dicky pada keterangannya, Sabtu (31/1/2026).
Risiko Besar Jika Masuk Fasilitas Kesehatan
Menurut Dicky, salah satu skenario paling berbahaya adalah ketika kasus Nipah tidak terdeteksi dan masuk ke fasilitas layanan kesehatan.
Rumah sakit berpotensi menjadi amplifier penularan, terutama jika tenaga kesehatan terpapar.
Kondisi tersebut dapat memicu lockdown lokal di rumah sakit dan berdampak pada kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan.
“Ketika ada kasus lokal tidak terdeteksi cepat, itu bisa menular di tenaga kesehatan setempat,” ujarnya.
Bukan Penyakit Airborne, Tapi Tetap Berbahaya
Dicky menegaskan, penting untuk membedakan Nipah dengan Covid-19. Virus Nipah bukan penyakit airborne dan tidak menyebar secepat Covid-19.
Namun, tingginya tingkat kematian membuatnya tetap harus ditangani secara agresif sejak awal.
Sebagai informasi, penyakit zoonosis ini diklasifikasikan sebagai patogen prioritas oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO karena memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Baca tanpa iklan