Akses Obat Kanker Masih Jadi Masalah: Ini Langkah Pemerintah, Perhimpunan Onkologi dan Industri
Biaya terapi kanker yang tinggi menjadi salah satu hambatan terbesar pasien dalam mendapatkan pengobatan optimal di Indonesia.
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Biaya terapi kanker yang tinggi menjadi salah satu hambatan terbesar pasien dalam mendapatkan pengobatan optimal di Indonesia.
Di tengah angka kasus yang tinggi, salah satu tantangan terbesar adalah biaya terapi kanker yang tinggi, terutama untuk obat-obatan modern seperti terapi target dan imunoterapi.
Baca juga: Kasus Kanker di Indonesia Meningkat, Dirut RS Dharmais Ungkap Faktor Penyebabnya
Kondisi ini kerap membuat pasien terlambat mendapatkan pengobatan optimal atau bahkan berhenti di tengah jalan karena beban biaya.
Dalam peringatan World Cancer Day (WCD) 2026 bertajuk “United By Unique”, pemerintah, organisasi profesi, dan pelaku industri farmasi menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk memperluas akses deteksi dini dan terapi kanker.
Hal ini ditegaskan dalam kegiatan yang digelar Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Minggu (1/2/2025).
Penyakit kanker tetap menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional, dengan menduduki peringkat ketiga penyebab kematian terbesar di Indonesia.
Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 mencatat lebih dari 408.661 kasus baru dengan angka kematian mencapai 242.099 kasus. Kanker payudara dan leher rahim menjadi beban tertinggi pada perempuan, sementara kanker paru dan kolorektal mendominasi pada laki-laki.
Baca juga: Menelisik Tren Kasus Kanker di Indonesia, Dirut RSMR Ungkap Jenis Dominan dan Pemicunya
Perwakilan Kemenkes RI (Direktorat Penyakit Tidak Menular) Prihandriyo Sri Hijranti mengatakan, penanganan kanker tidak hanya pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap screening dan deteksi dini.
Pemerintah memiliki program cek kesehatan gratis (CKG) sejak 2025, dimana ada skrining pada empat jenis kanker prioritas yakni kanker leher rahim, payudara, paru, dan kolorektal.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mengatur kebijakan terkait pengendalian faktor risiko, seperti pengawasan bahan karsinogen dan pembatasan konsumsi tembakau, sebagai upaya pencegahan risiko kanker.
“Ini semua membutuhkan kesadaran masyarakat untuk skrining kanker. Karena, mayoritas atau sekitar 70 persen pasien kanker di Indonesia 70 persen datang ke RS dalam keadaan stadium lanjut,” ungkap dia.
Ditambahkan Ketua Umum POI Cosphiadi Irawan, penanganan kanker adalah upaya multidisiplin.
Sinergi adalah kunci pelayanan kanker yang memprioritaskan keselamatan pasien.
Baca tanpa iklan