Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Bayi Rewel Tak Selalu Sakit, Curigai GERD Jika Ada Tanda Ini!

Menurut Prof Badriul, kunci membedakan gumoh normal dan GERD terletak pada alarm klinis, bukan pada frekuensi gumoh atau tangisan semata.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Ringkasan Berita:
  • GERD bukan sekadar soal rewel atau gumoh, melainkan kerusakan dinding kerongkongan akibat paparan asam lambung yang berkepanjangan
  • Sebagian besar gejala yang sering ditakuti orang tua justru bersifat normal pada bayi
  • Bila tangisan dijadikan dasar awal mendiagnosis GERD, maka risiko salah diagnosis menjadi sangat besar

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bayi rewel, sering menangis, dan gumoh berulang kerap membuat orang tua cemas.

Tak sedikit yang langsung melabelinya sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), padahal secara medis, rewel bukan penanda utama penyakit tersebut.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) menegaskan bahwa sebagian besar gejala yang sering ditakuti orang tua justru bersifat normal pada bayi.

Bayi Rewel Itu Normal, Jangan Jadikan Patokan GERD

Dalam praktik di lapangan, bayi yang menangis berlebihan sering dianggap pasti sakit.

Logikanya sederhana: jika sakit, bayi pasti rewel. Namun, pendekatan ini ternyata tidak selalu benar.

“Tangisan rewel, irritable itu normal loh pada bayi. Emang dia begitu rewel,” ujar Prof Badriul dalam Media Gathering & Health Talk dengan tema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” yang diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro di Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026). 

Baca juga: Bunda Stres Lihat Bayi Rewel karena Ruam Popok? Ini Cara Cerdas Menghindarinya

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menjelaskan bahwa bila tangisan dijadikan dasar awal mendiagnosis GERD, maka risiko salah diagnosis menjadi sangat besar.

Secara ilmiah, GERD bukan sekadar soal rewel atau gumoh, melainkan kerusakan dinding kerongkongan akibat paparan asam lambung yang berkepanjangan.

Melalui pemeriksaan pH kerongkongan selama 24 jam, ditemukan fakta menarik.

Sebagian besar bayi yang rewel dan menangis berlebihan ternyata memiliki paparan asam di kerongkongan di bawah 5 persen, angka yang masih tergolong normal.

“Kalau kita pakai tangisan berlebihan, irritable sebagai reflux disease, salah ya kita, ya?” tegas Prof Badriul.

Artinya, mayoritas bayi rewel tidak mengalami kerusakan esofagus dan tidak memenuhi kriteria GERD secara medis.

Ini Alarm GERD yang Sebenarnya, Bukan Sekadar Gumoh

Menurut Prof Badriul, kunci membedakan gumoh normal dan GERD terletak pada alarm klinis, bukan pada frekuensi gumoh atau tangisan semata.


Alarm tersebut antara lain:

  1. Berat badan tidak naik sesuai usia
  2. Regurgitasi disertai bercak darah
  3. Nyeri hebat hingga bayi melengkungkan tubuh ke belakang (Sandifer syndrome)

 

“Kalau berat badannya tidak naik, itu alarm kita. Kalau ada darah di muntahannya, kita boleh berpikir sebagai alarm,” jelasnya.

Tanpa tanda-tanda tersebut, gumoh berulang masih termasuk kondisi fisiologis yang umum terjadi pada bayi.

Gumoh Banyak Tapi Berat Badan Naik, Jangan Panik Dulu

Prof Badriul juga mengingatkan bahwa regurgitasi berlebihan belum tentu menandakan kerusakan.

Bayi bisa gumoh hingga 7–8 kali sehari, tetapi tetap sehat selama asupan makan baik dan berat badan naik sesuai kurva.

Sebaliknya, pada bayi dengan luka di kerongkongan, rasa nyeri justru membuatnya enggan makan, sehingga asupan berkurang dan pertumbuhan terhambat.

Inilah mengapa berat badan menjadi indikator kunci, bukan jumlah gumoh.

Langkah Awal Bukan Obat, Tapi Edukasi Orang Tua

Jika tidak ditemukan alarm, Prof Badriul menegaskan bahwa bayi tidak perlu terapi obat, karena GERD memang belum terbukti.

Pendekatan awal yang dianjurkan adalah edukasi dan perbaikan pola, mulai dari menghindari overfeeding, memperbaiki posisi bayi, hingga menenangkan kecemasan orang tua.

“Tenang ibu, penelitian menunjukkan 80 persen bayi akan reflux 1–4 kali sehari dan akan berkurang dengan bertambahnya usia,” kata Prof Badriul.

Selama bayi tumbuh dengan baik dan tampak nyaman, gumoh bukanlah penyakit.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas