Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah Penderita GERD Jalankan Ibadah Puasa Ramadhan: Balas Dendam saat Berbuka jadi Kesalahan Fatal

Dua penderita GERD, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35) membagikan kisah mereka menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Kisah Penderita GERD Jalankan Ibadah Puasa Ramadhan: Balas Dendam saat Berbuka jadi Kesalahan Fatal
Freepik
ILUSTRASI PENDERITA GERD - Foto ilustrasi penderita GERD yang diambil dari situs Freepik pada 22 Februari 2025. Dua penderita GERD, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35) saling mengisahkan perjuangan mereka saat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. 

Ringkasan Berita:
  • Dua penderita GERD, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35) membagikan kisah mereka menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
  • Keduanya sepakat bahwa musuh terbesar bukanlah rasa lapar, melainkan "balas dendam" yang salah saat berbuka.
  • Bagaimana kisah lengkap mereka saat menjalankan puasa Ramadhan di tengah bayang-bayang penyakit GERD?

TRIBUNNEWS.COM - Bagi sebagian besar umat Muslim, kumandang azan Magrib adalah momen kemenangan yang disambut dengan sukacita.

Namun, bagi para penyintas Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), setiap detik di bulan Ramadhan adalah diplomasi antara niat ibadah dan kondisi fisik yang rentan.

Tantangan menahan lapar selama belasan jam bukan sekadar ujian dahaga, melainkan perjuangan menjaga agar asam lambung tidak "naik pitam".

Dua perempuan tangguh, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35), membagikan kisah inspiratif mereka tentang bagaimana strategi makan makanan yang tepat dan ketenangan mental menjadi kunci utama melewati bulan suci tanpa harus menyerah pada rasa sakit.

Bagi Rusintha, pengalaman paling mencekam saat puasa Ramadhan adalah ketika gejala GERD menyerang tepat di tengah hari.

Rasa nyeri yang menusuk hingga memicu sesak nafas sempat membuatnya berada di ambang batas kemampuan.

Rekomendasi Untuk Anda

"Rasanya sangat sakit sampai sesak nafas," kenang ibu rumah tangga itu saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (17/2/2026).

Beruntung, serangan tersebut sering kali terjadi menjelang waktu berbuka, sehingga ia masih mampu mempertahankan puasanya.

Namun, ia tetap bersikap realistis: jika kondisi memburuk hingga muntah-muntah hebat, membatalkan puasa adalah langkah medis yang harus diambil demi keselamatan.

Senada dengan Rusintha, Garudea Prabawati juga merasakan fase adaptasi yang berat, terutama di awal Ramadhan.

"Di hari pertama sampai kedua, biasanya ada rasa pusing dan sedikit 'engap' di ulu hati," ujar wanita yang kerap disapa Dea itu saat ditemui Tribunnews.com, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Tips Berpuasa Ramadhan bagi Penderita GERD, Tak Perlu Balas Dendam saat Berbuka

Bedanya, dengan manajemen nutrisi yang ketat, Dea sejauh ini berhasil melewati tahun-tahun puasa tanpa pernah membatalkan puasa akibat serangan lambung.

Balas Dendam di Meja Makan

Kedua penderita GERD ini sepakat bahwa musuh terbesar bukanlah rasa lapar, melainkan "balas dendam" yang salah saat berbuka.

Ada beberapa kebiasaan pemicu yang mereka rangkum sebagai pantangan utama.

Rusintha menekankan bahwa mengisi perut kosong secara mendadak dengan porsi besar adalah kesalahan fatal.

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas