Kisah Penderita GERD Jalankan Ibadah Puasa Ramadhan: Balas Dendam saat Berbuka jadi Kesalahan Fatal
Dua penderita GERD, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35) membagikan kisah mereka menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Dua penderita GERD, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35) membagikan kisah mereka menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
- Keduanya sepakat bahwa musuh terbesar bukanlah rasa lapar, melainkan "balas dendam" yang salah saat berbuka.
- Bagaimana kisah lengkap mereka saat menjalankan puasa Ramadhan di tengah bayang-bayang penyakit GERD?
TRIBUNNEWS.COM - Bagi sebagian besar umat Muslim, kumandang azan Magrib adalah momen kemenangan yang disambut dengan sukacita.
Namun, bagi para penyintas Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), setiap detik di bulan Ramadhan adalah diplomasi antara niat ibadah dan kondisi fisik yang rentan.
Tantangan menahan lapar selama belasan jam bukan sekadar ujian dahaga, melainkan perjuangan menjaga agar asam lambung tidak "naik pitam".
Dua perempuan tangguh, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35), membagikan kisah inspiratif mereka tentang bagaimana strategi makan makanan yang tepat dan ketenangan mental menjadi kunci utama melewati bulan suci tanpa harus menyerah pada rasa sakit.
Bagi Rusintha, pengalaman paling mencekam saat puasa Ramadhan adalah ketika gejala GERD menyerang tepat di tengah hari.
Rasa nyeri yang menusuk hingga memicu sesak nafas sempat membuatnya berada di ambang batas kemampuan.
"Rasanya sangat sakit sampai sesak nafas," kenang ibu rumah tangga itu saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (17/2/2026).
Beruntung, serangan tersebut sering kali terjadi menjelang waktu berbuka, sehingga ia masih mampu mempertahankan puasanya.
Namun, ia tetap bersikap realistis: jika kondisi memburuk hingga muntah-muntah hebat, membatalkan puasa adalah langkah medis yang harus diambil demi keselamatan.
Senada dengan Rusintha, Garudea Prabawati juga merasakan fase adaptasi yang berat, terutama di awal Ramadhan.
"Di hari pertama sampai kedua, biasanya ada rasa pusing dan sedikit 'engap' di ulu hati," ujar wanita yang kerap disapa Dea itu saat ditemui Tribunnews.com, Selasa (17/2/2026).
Baca juga: Tips Berpuasa Ramadhan bagi Penderita GERD, Tak Perlu Balas Dendam saat Berbuka
Bedanya, dengan manajemen nutrisi yang ketat, Dea sejauh ini berhasil melewati tahun-tahun puasa tanpa pernah membatalkan puasa akibat serangan lambung.
Balas Dendam di Meja Makan
Kedua penderita GERD ini sepakat bahwa musuh terbesar bukanlah rasa lapar, melainkan "balas dendam" yang salah saat berbuka.
Ada beberapa kebiasaan pemicu yang mereka rangkum sebagai pantangan utama.
Rusintha menekankan bahwa mengisi perut kosong secara mendadak dengan porsi besar adalah kesalahan fatal.