Penderita Obesitas Meningkat, Pengobatan Oral Jadi Alternatif Penanganan
Metode pengobatan yang dianggap merepotkan atau menimbulkan ketidaknyamanan kerap membuat pasien menghentikan pengobatan. pengobatan oral alternatif.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Angka obesitas di Indonesia terus meningkat dan berkontribusi besar terhadap melonjaknya penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
- SKI 2023 mencatat prevalensi obesitas dewasa mencapai 23,4 persen, mendorong munculnya terapi obat oral yang dinilai lebih praktis dan mudah diakses.
- Meski efektif, pakar menegaskan obat harus disertai perubahan gaya hidup dan kebijakan kesehatan terintegrasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Angka obesitas di Indonesia terus meningkat dan menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan nasional. Selain berdampak pada kualitas hidup, obesitas juga berkontribusi besar terhadap meningkatnya penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 23,4 persen, naik dari 21,8 persen pada 2018. Sementara obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas tercatat 36,8 persen, menunjukkan tingginya risiko penyakit kronis di masyarakat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap pola konsumsi makanan olahan dan siap saji yang dinilai menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kasus obesitas.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyebut tren obesitas semakin mengkhawatirkan, terutama pada kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Baca juga: WHO Desak Seluruh Sekolah di Dunia Atur Ketat Makanan Anak, Obesitas Kini Lampaui Anak Kurus
“Urbanisasi, gaya hidup serba cepat, serta kemudahan akses makanan tinggi gula, garam, dan lemak membuat masyarakat cenderung memilih pola makan tidak sehat,” ujarnya dalam Diseminasi Hasil Studi Penasaran Makanan yang Tidak Sehat secara daring belum lama ini.
Terpisah, dokter spesialis gizi klinik, dr. M. Ingrid Budiman, Sp.GK., AIFO-K, menegaskan bahwa obesitas merupakan kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan menyeluruh.
Menurut dia, obesitas tidak hanya berkaitan dengan ukuran tubuh, tetapi juga memengaruhi fungsi jantung, pernapasan, kadar gula darah, hingga kualitas tidur.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan obesitas adalah kepatuhan pasien menjalani terapi jangka panjang.
Metode pengobatan yang dianggap merepotkan atau menimbulkan ketidaknyamanan kerap membuat pasien menghentikan pengobatan. Terapi suntik, meski efektif, masih menimbulkan ketakutan dan resistensi pada sebagian penderita.
Karena itu, terapi obat obesitas dalam bentuk oral atau pil mulai dipandang sebagai alternatif yang lebih praktis. Obat oral tidak memerlukan suntikan dan lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang terbiasa mengonsumsi tablet atau kapsul.
Dari sisi distribusi, obat oral juga lebih mudah menjangkau daerah terpencil karena tidak memerlukan rantai dingin maupun tenaga medis khusus.
Sejumlah peneliti internasional mengembangkan obat oral berbasis GLP-1 yang bekerja meningkatkan aktivitas metabolik otot tanpa secara langsung memengaruhi nafsu makan.
Uji awal menunjukkan obat ini mampu membantu mengontrol gula darah, meningkatkan metabolisme lemak, serta mempertahankan massa otot dengan efek samping minimal.
Baca tanpa iklan