Bukan Sekadar Berdebar, Gangguan Irama Jantung Tingkatkan Risiko Stroke hingga 6 Kali Lipat
Atrial fibrilasi terjadi ketika serambi jantung bergetar tidak teratur sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Atrial fibrilasi merupakan gangguan irama jantung yang meningkatkan risiko stroke hingga lima sampai enam kali lipat
- Getaran tidak teratur di serambi jantung dapat memicu terbentuknya gumpalan darah yang berpotensi menyumbat pembuluh darah otak
- Deteksi dini, pengendalian faktor risiko, dan terapi pengencer darah penting untuk mencegah komplikasi.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stroke kerap dianggap sebagai penyakit yang datang tiba-tiba tanpa peringatan.
Padahal, salah satu pemicu utamanya adalah gangguan irama jantung yang dikenal sebagai atrial fibrilasi.
Atrial fibrilasi terjadi ketika serambi jantung bergetar tidak teratur sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif.
Kondisi ini menyebabkan darah berputar dan berpotensi membentuk gumpalan di dalam jantung. Jika gumpalan tersebut terlepas dan menyumbat pembuluh darah di otak, maka stroke dapat terjadi.
“Risiko stroke meningkat lima sampai enam kali lipat dibandingkan pasien tanpa atrial fibrilasi,” ujar Konsultan Intervensi Jantung dan Aritmia Eka Hospital BSD, dr. Ignatius Yansen, dalam acara Launching and Health Talk Atrial Fibrillation di Eka Hospital MT Haryono, Jumat (13/2/2026).
Ia menjelaskan, proses stroke pada pasien atrial fibrilasi berawal dari getaran tidak teratur di serambi jantung yang menciptakan turbulensi aliran darah.
Baca juga: CT Scan Generasi Baru Percepat Diagnosis Penyakit Jantung dan Stroke
Turbulensi ini memicu pembentukan bekuan darah.
Bahkan partikel kecil yang dalam pemeriksaan jantung tampak seperti “salju” sudah dapat meningkatkan risiko stroke.
Dampaknya tidak selalu berupa kelumpuhan berat.
Sebagian pasien hanya mengalami gejala ringan dan sementara, seperti lupa mendadak atau kebingungan singkat.
Meski tampak sepele, kondisi tersebut tetap menjadi tanda peringatan serius.
Pencegahan stroke pada pasien atrial fibrilasi dilakukan melalui pengendalian faktor risiko, pemantauan irama jantung, serta penggunaan obat pengencer darah pada kasus tertentu.
Penanganan yang cepat dan tepat terbukti dapat menurunkan risiko komplikasi jangka panjang.
Semakin dini gangguan irama jantung dikenali, semakin besar peluang mencegah stroke.
Karena itu, pemeriksaan rutin dan kewaspadaan terhadap perubahan detak jantung menjadi langkah penting dalam melindungi kesehatan otak.
Baca tanpa iklan