Beban Kanker Indonesia Kian Berat, AI Percepat Identifikasi HER2 dan Skrining Paru
Jumlah kasus kanker diprediksi melonjak lebih dari 70 persen pada 2050. Kondisi tersebut mendorong pemanfaatan teknologi untuk perkuat diagnosis.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Jumlah kasus kanker diperkirakan bisa melonjak lebih dari 70 persen pada 2050. Saat ini, sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus
- Kondisi tersebut mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperkuat proses diagnosis
- Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi langkah strategis untuk mendukung tenaga medis dalam mempercepat proses diagnostik dan meningkatkan akurasi interpretasi klinis
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Beban kanker di Indonesia diproyeksikan meningkat tajam dalam beberapa dekade ke depan.
Jika upaya pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat, jumlah kasus kanker disebut bisa melonjak lebih dari 70 persen pada 2050.
Saat ini, sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus.
Tantangan lain, banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut, sehingga pilihan terapi menjadi lebih terbatas dan kompleksitas pengobatan meningkat.
Baca juga: Semangat Hidup Lubna 4 Kali Operasi Kanker, Tuntaskan Trail Running 9 Jam Lintasi Gunung
Kondisi tersebut mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperkuat proses diagnosis.
Dalam momentum Hari Kanker Sedunia, AstraZeneca Indonesia bersama Siloam International Hospitals menghadirkan implementasi teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung diagnosis kanker payudara dan skrining kanker paru.
AI untuk Bantu Identifikasi HER2 pada Kanker Payudara
Khusus kanker payudara, data GLOBOCAN mencatat sekitar 65 ribu kasus baru dan lebih dari 22 ribu kematian pada 2020.
Sebagian kasus berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), protein yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker lebih agresif.
Teknologi AI diintegrasikan dalam analisis digital jaringan patologi untuk membantu mengidentifikasi status HER2 hingga ekspresi yang sangat kecil.
Dengan sistem ini, hasil patologi anatomi dapat diakses secara real-time di jaringan rumah sakit, sehingga memangkas waktu interpretasi dan pengambilan keputusan klinis.
“Melalui implementasi teknologi AI sebagai pendamping tenaga medis, proses identifikasi tipe kanker payudara. Termasuk status HER2 beserta subkategorinya. dapat dilakukan lebih cepat dan akurat,” jelas Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan Subspesialisasi Hematologi Onkologi Medik Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Dari sisi patologi anatomi, pemanfaatan AI juga dinilai dapat meningkatkan konsistensi penilaian.
“Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, penilaian (scoring) status HER2 harus akurat dan konsisten,” jelas dokter spesialis Patologi Anatomik Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, MSi.Med, Sp.PA pada kesempatan yang sama.
Ia menyebut, data studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan pemanfaatan AI sebagai pendamping penilaian HER2 dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low serta memperbaiki akurasi dan konsistensi antar-pemeriksa.
Baca tanpa iklan