Sulit Melewatkan Renyahnya Bakwan saat Berbuka Puasa, Ini Trik Tetap Bugar Meski Makan Gorengan
Menyantap gorengan saat buka puasa memang menggoda,meski risiko kesehatan mengancam.Ini trik agar tetap bugar meskipun makan gorengan.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- Menyantap gorengan saat berbuka perlu diimbangi dengan pemilihan minyak goreng berkualitas agar kesehatan tetap terjaga
- Reisa Broto Asmoro mengingatkan pentingnya memperhatikan kestabilan dan kejernihan minyak untuk mencegah lemak berlebih
- Teknik menggoreng yang tepat juga membantu menjaga tubuh tetap bugar selama Ramadan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Menyantap gorengan saat berbuka puasa memang menjadi tradisi yang sulit dilewatkan.
Aroma harum dan renyahnya bakwan, risol, atau tempe goreng kerap menjadi pembuka selera setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Baca juga: Suka Makan Gorengan Saat Buka Puasa? Tetap Sehat dengan 5 Langkah Ini!
Namun, di balik kenikmatan tersebut, cara pengolahan—terutama pemilihan minyak goreng—memegang peran penting terhadap kesehatan tubuh selama Ramadan.
Health Enthusiast Reisa Broto Asmoro mengingatkan bahwa kualitas minyak goreng tidak boleh diabaikan, terutama ketika pola makan berubah selama bulan puasa.
Menurutnya, sahur dan berbuka merupakan dua momen krusial yang menentukan stamina tubuh sepanjang hari. Jika asupan makanan terlalu tinggi lemak akibat penggunaan minyak yang tidak tepat, tubuh bisa terasa cepat lelah, begah, bahkan memicu gangguan pencernaan.
“Kita boleh saja menggunakan minyak lebih dari sekali, asalkan kualitasnya masih baik. Perhatikan komposisi, kandungan, dan nutrisinya,” ujar Reisa dalam talkshow Ramadan No Oversharing bersama Tropika No Over Saring di AEON Mall Sentul City, Bogor, Minggu (1/3/2026).
Risiko Minyak Jelantah bagi Kesehatan
Reisa menjelaskan, penggunaan minyak yang telah dipakai berulang kali tanpa kontrol kualitas dapat meningkatkan kadar lemak jenuh dan senyawa berbahaya akibat proses oksidasi.
Minyak yang sudah berubah warna menjadi lebih gelap, berbau tengik, atau menghasilkan asap berlebih saat dipanaskan, menandakan kualitasnya menurun.
"Jika tetap digunakan, makanan akan menyerap lebih banyak minyak dan berpotensi membebani sistem pencernaan," katanya.
Dalam jangka panjang, konsumsi lemak berlebih dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme, terutama ketika tubuh sedang beradaptasi dengan pola makan terbatas selama puasa.
Sebaliknya, minyak goreng yang melalui proses penyaringan optimal cenderung lebih stabil saat dipanaskan. Stabilitas ini membantu menjaga struktur minyak sehingga makanan tidak menyerap lemak secara berlebihan.
“Kondisi ini penting untuk mencegah rasa begah dan menjaga tubuh tetap ringan saat berpuasa,” jelasnya.
Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Selama Ramadan
Diskusi dalam acara tersebut tidak hanya membahas aspek fisik, tetapi juga menyinggung kesehatan mental dan spiritual selama Ramadan.
Aktor dan presenter Akri Patrio mengingatkan bahwa esensi Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga sikap, termasuk dalam bermedia sosial.
Baca tanpa iklan