Sering Begadang Saat Ramadan? Awas Risiko Kurang Tidur bagi Kesehatan Jantung
Puasa sangat baik untuk jantung, selama kebutuhan tidur tetap terpenuhi. Kebiasaan begadang tidak disarankan.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Puasa sangat baik untuk jantung, selama kebutuhan tidur tetap terpenuhi.
- Saat tidak ada asupan makanan sepanjang hari, sistem tubuh termasuk jantung mendapat waktu istirahat dari ritme makan yang terus-menerus.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan identik dengan suasana yang berbeda.
Malam terasa lebih hidup, aktivitas bertambah, dari tarawih, sahur, sampai nonton atau kumpul keluarga.
Baca juga: Mitos atau Fakta? Mandi Air Dingin Usai Kelelahan Bisa Picu Serangan Jantung? Ini Penjelasan Dokter
Tapi di balik itu, ada satu kebiasaan yang sering luput disadari, waktu tidur jadi lebih singkat.
Padahal menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Intervensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Nanda Iryuza Sp. J.P, Subsp. K.I. (K), puasa justru sangat baik untuk jantung, selama kebutuhan tidur tetap terpenuhi.
“Oke, selama puasa. Jadi puasa sendiri itu sebenarnya adalah seorang yang sangat baik buat jantung. Satu-satunya hal yang, saya bukan bilang bahwa, ini nggak bagus sih, orang puasa itu saya entah kenapa jadi waktu tidurnya lebih singkat,"ungkapnya pada media briefing di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Puasa Itu Baik, Tapi Kurang Tidur Bisa Jadi Masalah
Menurut dr Nanda, puasa memberi kesempatan tubuh untuk melakukan reset alami.
Saat tidak ada asupan makanan sepanjang hari, sistem tubuh termasuk jantung mendapat waktu istirahat dari ritme makan yang terus-menerus.
Baca juga: Selamat dari Serangan Jantung Bukan Berarti Aman, Dokter: Justru Masa Kritis Cegah Serangan Kedua
Ia menggambarkan bagaimana di hari biasa orang cenderung makan tanpa jeda: pagi sarapan, siang makan, sore ngemil, malam makan lagi.
Bahkan di sela-selanya masih ada kopi atau camilan tambahan.
Tubuh sebenarnya punya sinyal kapan harus beristirahat, terutama pada malam hari. Dalam kondisi normal, detak jantung akan menurun saat waktu tidur tiba.
Namun jika waktu istirahat terus ditunda, jantung seperti dipaksa bekerja lebih lama.
“Tetap jantung saya harus turun. Iya, tetap jantung. Kalau udah malam itu harus turun,"imbuhnya.
Artinya, malam hari adalah momen alami bagi jantung untuk menurunkan ritme kerjanya.
Begadang Bukan Bagian dari Ibadah
Baca juga: Puasa Sehat, Saatnya Diet! Ini Tips Agar Target Turunkan Berat Badan Saat Ramadan Tak Meleset
Dr Nanda menegaskan, tidak ada alasan menjadikan puasa sebagai pembenaran untuk tidur lebih larut dari biasanya.
“Kita nggak tuh puasa harus tidur lebih lama. Enggak. Tidur kita harus cukup sehari,"lanjutnya.
Ia mencontohkan, jika seseorang tidur pukul 21.00 dan bangun sekitar pukul 03.30 untuk sahur, itu sudah sekitar enam jam. Durasi tersebut dinilai cukup bagi orang dewasa.
Yang sering terjadi justru kebiasaan menunda tidur karena suasana Ramadan terasa lebih “hidup”.
Ada tayangan yang ingin ditonton, obrolan yang diperpanjang, atau aktivitas lain yang membuat waktu istirahat terpangkas.
Padahal, ketika tubuh terus dipaksa aktif tanpa jeda, jantung tidak mendapat fase pemulihan yang optimal.
Jantung Bukan Mesin Tanpa Batas
Dalam penjelasannya, dr Nanda mengibaratkan jantung seperti orang yang terus berlari. Kalau dipacu tanpa henti, tubuh pasti akan kelelahan.
Begitu juga dengan jantung. Ia memang tidak boleh berhenti, tetapi ritmenya harus turun saat malam hari. Jika tidak, kelelahan akan menumpuk.
Karena itu, tidur menjadi faktor yang sangat krusial selama Ramadan.
Puasa bisa menjadi momen terbaik untuk mereset tubuh. Namun reset itu tidak akan maksimal jika di saat yang sama kita justru mengurangi waktu istirahat.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang lebih mindful terhadap tubuh sendiri.
Mendengar sinyal lelah, menghargai kebutuhan tidur, dan menjaga ritme alami jantung.
Sebab menjaga kesehatan jantung saat puasa bukan soal apa yang dimakan saat sahur dan berbuka saja, tetapi juga soal seberapa cukup kita memberi waktu tubuh untuk benar-benar beristirahat.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.