Psikolog: Orang Tua Tak Perlu Gengsi Minta Maaf ke Anak, Bisa Sembuhkan Luka Batin
Pola pikir ini buat hubungan orang tua dan anak kadang berjalan satu arah, di mana anak dituntut untuk terus patuh sementara orang tua jarang bersalah
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
willy Widianto
Ringkasan Berita:
- Ketika orang tua mampu membangun komunikasi yang sehat dengan anak, dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
- Perubahan besar dalam masyarakat sering kali dimulai dari hal-hal sederhana di dalam keluarga, termasuk keberanian orang tua untuk mengakui kesalahan.
- Nilai-nilai seperti empati, kemampuan mengelola emosi, hingga keberanian meminta maaf biasanya pertama kali dipelajari seseorang di lingkungan keluarga.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dalam banyak keluarga di Indonesia, orang tua sering ditempatkan sebagai sosok yang dianggap selalu benar dan tidak boleh melakukan kesalahan.
Baca juga: Kakak Virgoun Jelaskan soal Rencana Rebut Hak Asuh Anak dari Inara Rusli
Pola pikir ini membuat hubungan antara orang tua dan anak terkadang berjalan satu arah, di mana anak dituntut untuk patuh, sementara orang tua jarang merasa perlu meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Padahal, menurut para ahli, sikap terbuka untuk mengakui kesalahan justru dapat memperkuat hubungan emosional dalam keluarga. Permintaan maaf dari orang tua kepada anak dinilai mampu memberikan rasa dihargai sekaligus membantu menyembuhkan luka batin yang mungkin selama ini dipendam oleh anak.
Psikolog anak dan keluarga Friska Asta mengatakan bahwa orang tua pada dasarnya tetap manusia yang tidak luput dari kesalahan. Karena itu, meminta maaf kepada anak bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan langkah penting untuk memperbaiki hubungan dalam keluarga.
Menurut Friska, anak sebenarnya tidak selalu menuntut permintaan maaf yang besar. Hal yang paling mereka butuhkan adalah pengakuan bahwa perasaan mereka didengar dan dihargai.
Ia pun menggambarkan bagaimana perasaan seseorang bisa berubah ketika akhirnya menerima permintaan maaf dari orang tuanya setelah bertahun-tahun.
“Ketika mamaku sudah minta maaf, ada rasa lapang yang rasanya langkahku lebih ringan, aku jadi lebih healthy menjalani hidup,” ujar Friska saat ditemui usai acara talkshow kesehatan di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (10/3/2026).
Friska menjelaskan bahwa hubungan antara orang tua dan anak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan hubungan antarindividu lainnya, termasuk pertemanan.
Baca juga: Psikolog Ingatkan Pentingnya Peran Ayah Saat Bayi Bangun Malam, Bisa Jaga Kesehatan Mental Ibu
Ketika seseorang merasa disakiti, yang paling diharapkan bukan sekadar kata maaf, melainkan pengakuan bahwa kesalahan tersebut memang terjadi.
Validasi semacam ini dapat memberikan rasa lega yang besar bagi seseorang.
Hal yang sama juga dirasakan anak ketika orang tua mengakui kesalahannya, misalnya setelah marah berlebihan atau melakukan sesuatu yang tidak tepat.
Meski demikian, Friska menekankan bahwa seseorang tidak bisa memaksa orang tuanya untuk berubah atau meminta maaf.
Setiap generasi memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Banyak orang tua di masa lalu tumbuh dalam kondisi yang keras sehingga cara mereka mendidik anak juga dipengaruhi oleh pengalaman tersebut.
Karena itu, langkah yang bisa dilakukan seseorang bukanlah mengubah masa lalu, melainkan memperbaiki cara mendidik generasi berikutnya.
Baca juga: Psikolog: Anak Belajar dari Apa yang Dilihat Setiap Hari di Rumah
Baca tanpa iklan