Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Pemerintah Diminta Tak Lengah Meski Terjadi Penurunan Kasus Campak Sebesar 93 Persen

Edy Wuryanto, meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak bersikap jumawa atas laporan penurunan kasus campak sebesar 93 persen.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fersianus Waku
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Pemerintah Diminta Tak Lengah Meski Terjadi Penurunan Kasus Campak Sebesar 93 Persen
Istimewa
PENURUNAN KASUS CAMPAK - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI-P, Edy Wuryanto, meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak bersikap jumawa atas laporan penurunan kasus campak sebesar 93 persen. Meskipun angka kasus dilaporkan menurun, Edy menekankan bahwa kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.  

Ia pun mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh. 

Menurut Edy, upaya pencegahan tidak boleh hanya mengandalkan imunisasi massal, tetapi juga harus memperkuat sistem pencegahan yang berbasis komunitas.

Beberapa langkah yang ia usulkan meliputi:

  • percepatan pemulihan cakupan imunisasi dasar
  • penguatan kembali pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
  • peningkatan deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan primer
  • serta edukasi masyarakat untuk mengatasi keraguan terhadap vaksin

Kemenkes Laporkan Penurunan Kasus Campak

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia.

Hingga minggu ke-12 tahun 2026, jumlah kasus harian tercatat turun hingga 93 persen, dari puncak 2.220 kasus pada awal tahun menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyebut tren penurunan terjadi secara konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami lonjakan kasus pada akhir 2025 hingga awal 2026.

"Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota dengan riwayat lonjakan kasus pada akhir 2025 dan awal 2026," ujar dr. Andi, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Selasa (31/3/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Menanggapi kekhawatiran publik terkait keakuratan data selama periode libur Lebaran, Kemenkes memastikan sistem surveilans tetap berjalan optimal.

Pemantauan dilakukan secara real-time melalui metode New All Record (NAR) serta Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), yang datanya diverifikasi bersama dinas kesehatan daerah.

Meski tren menunjukkan penurunan, Kemenkes mencatat masih terdapat 10 kasus kematian akibat campak sepanjang 2026.

Salah satunya menimpa seorang dokter internsip berinisial AMW (25) di Kabupaten Cianjur, yang meninggal dunia pada 26 Maret akibat komplikasi serius pada jantung dan otak.

Kasus tersebut bermula saat korban diduga terpapar ketika menangani pasien pada 8 Maret.

Meski sempat mengalami demam sejak 18 Maret, ia tetap bertugas hingga kondisinya memburuk dengan munculnya ruam dan penurunan kesadaran, sebelum akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif.

Kasus ini telah terkonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan laboratorium Biofarma.

Perluas Cakupan Vaksinasi Campak

Secara nasional, sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada kelompok usia dewasa.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas