Kekurangan Zat Besi pada Anak Bisa Turunkan Tingkat Kecerdasan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pola makan anak yang monoton. Padahal, kunci utama pemenuhan zat besi adalah variasi makanan.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Kekurangan zat besi pada anak memiliki dampak serius yang sering tidak disadari
- Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi kekurangan zat besi sering terlihat dari anak yang mudah lelah, sulit fokus, atau tampak lebih lambat dibandingkan teman sebayanya
- Jika kondisi ini terus berlanjut, anak bisa masuk dalam lingkaran masalah gizi yang sulit diputus
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang tua masih mengira masalah gizi pada anak hanya soal berat badan atau tinggi badan.
Padahal, dampaknya bisa jauh lebih dalam, termasuk memengaruhi kecerdasan hingga daya tahan tubuh anak.
President of Indonesian Nutrition Association sekaligus dokter klinik gizi senior Dr. dr. Luciana Budiati Sutanto, MS, Sp.GK, Subsp.PK mengungkap bahwa kekurangan zat besi pada anak memiliki dampak serius yang sering tidak disadari.
Ia menegaskan bahwa masalah ini sudah terbukti dalam berbagai penelitian, termasuk dari Indonesia Health Development Center.
Baca juga: Dokter Ingatkan Bahaya Kekurangan Zat Besi pada Anak, Bisa Berdampak Seumur Hidup
“Pada anak-anak, ini tadi sudah terbukti dari penelitian di IHDC, bahwa dampak defisiensi besi pada anak menyebabkan penurunan kognisi,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026).
Kekurangan zat besi tidak hanya berdampak pada satu aspek, tetapi menyerang banyak sisi tumbuh kembang anak sekaligus.
Mulai dari kemampuan belajar, perkembangan motorik, hingga kemampuan bicara bisa ikut terganggu. Bahkan, anak juga menjadi lebih rentan sakit karena daya tahan tubuhnya menurun.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini sering terlihat dari anak yang mudah lelah, sulit fokus, atau tampak lebih lambat dibandingkan teman sebayanya.
Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa hal tersebut bisa berkaitan dengan kekurangan zat besi.
Masalah gizi pada anak bersifat kompleks dan saling berhubungan. Kekurangan zat besi bisa memicu penurunan nafsu makan, yang akhirnya berdampak pada kurangnya asupan kalori dan protein.
Jika kondisi ini terus berlanjut, anak bisa masuk dalam lingkaran masalah gizi yang sulit diputus.
“Anak yang kurang besi menjadi kognitifnya terganggu. Selera makan jadi turun, makannya jadi rendah. Total kalorinya jadi rendah dan asupan proteinnya juga jadi rendah,” jelasnya.
Dampak berlapis ini membuat anak semakin rentan terhadap penyakit. Ketika anak sering sakit, pertumbuhan pun semakin terganggu, dan perkembangan otak ikut terdampak.
Bukan Soal Makanan Mahal, Tapi Variasi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pola makan anak yang monoton. Padahal, kunci utama pemenuhan zat besi adalah variasi makanan.
Baca tanpa iklan