Agar Tak Salah Amati Pertumbuhan Anak, Begini Cara Ukur Tinggi Badan yang Benar
Banyak orang tua rutin mengukur tinggi badan anak di rumah, tetapi caranya salah. Padahal ini berdampak pada kesimpulan tumbuh kembang anak.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Ia menekankan pentingnya pengukuran berkala, minimal dua kali dengan jarak 3 hingga 6 bulan.
Dengan cara ini, orang tua bisa melihat tren pertumbuhan, bukan sekadar angka sesaat.
Harus Dipetakan ke Kurva Pertumbuhan
Setelah diukur, hasilnya tidak boleh langsung disimpulkan. Data tersebut harus diplot ke kurva pertumbuhan.
Di sinilah banyak orang tua sering melewatkan langkah penting.
“Setelah kita ukur, kita plot ke kurva pertumbuhan. Kita plot tentunya, kalau ke kurva pertumbuhan yang salah, anaknya akan interpretasinya berbeda,” ujarnya.
Kurva pertumbuhan berfungsi sebagai alat untuk membandingkan tinggi badan anak dengan standar usianya.
Tanpa kurva, orang tua hanya melihat angka, bukan makna di balik angka tersebut.
Pemantauan pertumbuhan anak bukan hanya soal mengukur tinggi badan, tetapi memahami proses di baliknya.
Dengan teknik yang tepat, pengukuran berkala, dan penggunaan kurva pertumbuhan, orang tua bisa mendeteksi lebih dini jika ada masalah.
Langkah sederhana ini bisa menjadi kunci penting untuk memastikan anak tumbuh optimal sesuai potensinya.
Baca tanpa iklan