Jantung Berdebar Saat Ketemu Mantan Itu Normal, Tapi Kapan Harus Khawatir? Ini Penjelasan Dokter
Di balik sensasi yang tampak sepele itu, ada batas tipis antara reaksi normal tubuh dan tanda gangguan irama jantung yang berbahaya.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Menurutnya, bahaya terbesar justru datang dari kondisi yang tidak dikenali sejak awal.
“Karena musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang tidak kita ketahui. Jadi kita harus tahu membedakan yang mana kecil, yang mana macam,” katanya.
Dalam konteks ini, tidak semua aritmia berbahaya. Namun ada jenis tertentu yang bisa memicu kondisi serius seperti pingsan hingga henti jantung mendadak.
Salah satunya adalah atrial fibrilasi, gangguan irama jantung yang tidak teratur dan cukup umum terjadi.
Kondisi ini dialami sekitar 1 persen populasi, dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Yang perlu diwaspadai, atrial fibrilasi juga berkaitan dengan risiko stroke yang bisa muncul tanpa gejala awal yang jelas.
Tanda yang Tidak Boleh Diabaikan
Ada beberapa gejala yang perlu menjadi alarm bagi masyarakat.
Jika jantung berdebar disertai pusing, sesak napas, nyeri dada, pandangan gelap, atau bahkan pingsan, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.
Gejala tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan irama jantung yang serius, seperti ventrikular takikardia yang dapat menyebabkan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
Selain itu, faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan obesitas juga berperan besar dalam meningkatkan risiko gangguan ini.
Karena itu, pemeriksaan seperti rekam jantung menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi jantung tetap dalam keadaan aman.
Harapan dari Teknologi Medis
Di tengah risiko yang ada, perkembangan teknologi memberikan harapan baru bagi pasien dengan gangguan irama jantung.
Penanganan kini tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga prosedur seperti ablasi untuk menghentikan sumber gangguan listrik di jantung.
Selain itu, terdapat juga alat seperti ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator) yang dapat ditanam dalam tubuh untuk mendeteksi dan mengatasi gangguan irama berbahaya secara otomatis.
Teknologi ini bahkan mampu memberikan kejut listrik saat terjadi kondisi kritis, sehingga pasien dapat terselamatkan dalam situasi darurat.
Pada akhirnya, memahami tubuh sendiri menjadi langkah awal yang tidak bisa digantikan teknologi apa pun. Mengenali kapan harus tenang dan kapan harus waspada adalah bagian penting dari menjaga kesehatan jantung.
Dr. Evan mengingatkan bahwa tubuh adalah satu-satunya tempat kita hidup, sehingga harus dirawat dengan baik.
“Take care of your body, it is the only place you have to live," demikian ia berpesan.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan