Cegah Cacar Api, Kampanye GSK Soroti Risiko Nyeri Hebat yang Bisa Ganggu Produktivitas
Cacar api atau herpes zoster bukan ruam kulit biasa.Penyakit ini dapat memicu nyeri hebat yang berkepanjangan.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Cacar api atau herpes zoster bukan ruam kulit biasa.
- Penyakit ini dapat memicu nyeri hebat yang berkepanjangan.
- Efeknya, mengganggu aktivitas sehari-hari dan produktivitas seseorang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cacar api atau herpes zoster bukan sekadar ruam kulit biasa.
Penyakit ini dapat memicu nyeri hebat yang berkepanjangan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan produktivitas seseorang.
Baca juga: Survei Global Tunjukan Banyak Lansia Khawatir Terkena Cacar Api, Ini Risiko yang Perlu Diketahui
Melalui kampanye global Shingles Action Week (23 Februari–1 Maret), GSK mendorong langkah nyata pencegahan cacar api, khususnya pada orang dewasa usia 50 tahun ke atas dan individu dengan penyakit kronis.
Bertepatan dengan World Immunization Week (24–30 April), kampanye ini juga diperkuat di Indonesia melalui kolaborasi lintas sektor bersama Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, dan Yayasan Jantung Indonesia.
Mengusung slogan “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi”, kampanye ini menekankan pentingnya tindakan preventif tanpa penundaan.
Nyeri Hebat yang Mengganggu Aktivitas
Data survei global menunjukkan, 42 persen penderita cacar api mengalami nyeri berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan, 33 persen di antaranya mengaku produktivitas mereka ikut terdampak.
Kondisi ini terjadi karena virus varicella-zoster yang sudah lama “tidur” di dalam tubuh bisa aktif kembali saat sistem imun menurun.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. dr. Vito Anggarino Damay, Sp.JP(K), menegaskan bahwa daya tahan tubuh sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan tingkat stres.
“Aktivitas kita, maksud saya aktivitas sehari-hari kita sangat berkaitan dengan stres dan sistem imun. Maka kita sebenarnya sangat rentan, kita semua adalah populasi yang berisiko karena hal tersebut,” ujar Dr. Vito pada acara konferensi pers Singles Action Week 2026 “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi” bersama GSK, Kemenkes, PERKI dan Yayasan Jantung Indonesia di Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa stres, baik fisik maupun psikologis, dapat melemahkan sistem imun tanpa disadari.
“Anything stress yang mungkin kita nggak sadar ya, bukan cuma fisik, tapi juga stress secara fisikis juga itu akan mempengaruhi semua hal itu ya. Jadi ya, immune system kita akan sangat terganggu dengan hal semacam itu. Kita semua sama, punya risiko sendiri,” lanjutnya.
Risiko Tinggi pada Usia 50 Tahun ke Atas
Kampanye GSK juga menyoroti bahwa kelompok usia lanjut dan pasien dengan penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi terkena cacar api.
Baca tanpa iklan