Waspada Risiko Suplemen Tanpa Aturan: Tingginya Konsumsi Belum Barengi Pemahaman Dosis
Banyak masyarakat belum sepenuhnya memahami aturan konsumsi, dosis yang sesuai, hingga potensi risiko penggunaan suplemen menjadi tidak tepat.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Suplemen dipandang sebagai cara untuk mendukung kesehatan secara umum, meningkatkan imunitas, serta membantu individu mencapai tujuan kesehatannya
- Dalam sebuah studi, kelompok Boomer di Asia Pasifik banyak yang meminum suplemen setiap hari, tapi hanya sedikit yang benar-benar peduli memilih dengan tepat
- Tanpa pengetahuan yang memadai, konsumen dapat mengalami kesulitan untuk memperoleh manfaat suplementasi yang aman dan efektif
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan makin meningkat, termasuk konsumsi suplemen.
Sayangnya di balik tren positif tersebut, banyak masyarakat belum sepenuhnya memahami aturan konsumsi, dosis yang sesuai, hingga potensi risiko dari penggunaan suplemen menjadi tidak tepat.
Pakar kesehatan sekaligus Director Research Development and Scientific Affairs, Asia Pacific Herbalife, Alex Teo menyatakan, pada studi terbaru yang dilakukan kepada konsumen di kawasan Asia Pasifik (APAC), konsumsi suplemen kesehatan semakin populer.
Suplemen dipandang sebagai cara untuk mendukung kesehatan secara umum, meningkatkan imunitas, serta membantu individu mencapai tujuan kesehatannya.
Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Kesehatan Tulang Sudah Ditentukan Sejak Dalam Kandungan
“Tidak jarang dokter, ahli gizi, perusahaan layanan kesehatan, bahkan teman, merekomendasikan penggunaan suplemen,” kata dia pada Kamis (30/4/2026).
Survei ini dilakukan pada 9.000 konsumen di 11 pasar pada Mei 2025 menunjukkan bahwa hampir sembilan dari sepuluh (88 persen) konsumen di Indonesia mengonsumsi suplemen secara rutin.
Namun hanya 69 persen responden yang yakin bahwa mereka telah mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam memilih suplemen.
Konsumsi suplemen yang bertanggung jawab artinya seseorang mengetahui komposisi bahan dalam produk, kualitas produk, dosis yang direkomendasikan, batas konsumsi, serta potensi interaksi dengan suplemen atau obat lain.
“Tanpa pengetahuan yang memadai, konsumen dapat mengalami kesulitan untuk memperoleh manfaat suplementasi yang aman dan efektif, sekaligus memperkuat upaya kesehatan preventif mereka,” ujar Dr. Teo.
Dalam studi yang sama, kelompok Boomer di Asia Pasifik banyak yang meminum suplemen setiap hari, tapi hanya sedikit (30 persen) yang benar-benar peduli memilih dengan tepat.
Sebaliknya, kelompok anak muda atau gen Z paling sadar pentingnya memilih suplemen dengan benar (47 persen) dan paling percaya diri (58 persen) dalam menentukan pilihan.
Konsumsi suplemen kalsium yang berlebihan dapat berbahaya karena bisa menyebabkan hiperkalsemia, yaitu kadar kalsium dalam darah terlalu tinggi, yang berisiko melemahkan tulang dan memicu batu ginjal.
Survei juga menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat Indonesia bahwa 62 persen tidak tahu batas aman konsumsi kalsium harian dan 73 persen tidak memahami dampak kelebihan kalsium.
Meski saat ini konsumen memiliki akses informasi yang luas, pengambilan keputusan suplemen yang tepat tetap memerlukan upaya yang tidak sedikit.
Baca tanpa iklan