Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Studi: Estrogen Tinggi Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Memori akibat Trauma

Studi baru menemukan kadar estrogen tinggi di hippocampus dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan memori setelah trauma.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Studi: Estrogen Tinggi Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Memori akibat Trauma
Pexels
HASIL STUDI - Ilustrasi otak diambil dari situs bebas royalti Pexels. Studi baru menemukan kadar estrogen tinggi di hippocampus dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan memori setelah trauma. 

Penelitian menunjukkan kadar estrogen hippocampus serupa pada tikus jantan dan betina fase proestrus, sementara tikus fase estrus memiliki kadar lebih rendah. Peneliti mengonfirmasi hal ini menggunakan spektrometri massa dan menemukan tikus estrus memiliki setengah kadar estrogen hippocampus dibanding dua kelompok lainnya.

Dalam konteks ini, rendahnya estrogen di hippocampus tampaknya melindungi dari efek negatif stres. Temuan ini mengejutkan karena estrogen umumnya dianggap mendukung fungsi memori pada kedua jenis kelamin, sementara penurunan estrogen seperti saat menopause justru dikaitkan dengan masalah memori. Namun, menopause berlangsung dalam jangka waktu jauh lebih panjang dibanding siklus hormon tikus betina yang hanya empat hingga lima hari.

Hubungan dengan DNA

Mengapa kadar estrogen penting bagi memori? “Reseptor estrogen secara langsung mengontrol ekspresi gen,” kata Heller. Dengan berikatan pada reseptornya, estrogen dapat meningkatkan atau menurunkan aktivitas gen tertentu.

Laboratorium Heller meneliti mekanisme pengendalian aktivitas gen dalam konteks gangguan psikiatri. Salah satunya adalah remodeling kromatin, yakni perubahan cara DNA dikemas di dalam sel yang memengaruhi gen mana yang dapat aktif pada waktu tertentu. Bagian kromatin bisa berada dalam kondisi “terbuka,” sehingga gen mudah diaktifkan, atau “tertutup,” yang biasanya menonaktifkan gen.

Estrogen hippocampus tinggi pada tikus jantan dan tikus betina proestrus ternyata membuka kromatin dengan cara yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan memori akibat stres berat. Sebaliknya, tikus betina fase estrus memiliki profil kromatin berbeda yang tampak protektif.

“Kami dapat melihat bahwa fungsi banyak gen terbuka ini berkaitan dengan biologi sinaps,” ujar Heller. Sinaps adalah titik pertemuan neuron tempat sinyal listrik dipertukarkan, dan sangat penting dalam struktur fisik memori di otak.

Rekomendasi Untuk Anda

Baram menjelaskan, dalam kebanyakan situasi, kadar estrogen hippocampus tinggi mungkin bermanfaat karena membuka kromatin sehingga hippocampus dapat membentuk memori baru dengan cepat. Namun, ketika pengalaman tersebut berupa stres akut berat, kemampuan belajar otak yang sama justru menjadi bermasalah.

Jika hasil ini berlaku pada manusia, perempuan mungkin lebih rentan terhadap dampak memori tertentu pada fase tertentu dalam siklus menstruasi atau periode hidup ketika estrogen tinggi.

Pada jantan dan betina, jenis reseptor estrogen yang berbeda bertanggung jawab terhadap masalah memori akibat stres. Alasan perbedaan ini masih akan diteliti lebih lanjut.

Studi ini menunjukkan bahwa estrogen mendorong perubahan jaringan kromatin yang bergantung pada jenis kelamin dan dipicu stres, yang dapat mengubah fungsi saraf seperti memori secara dramatis, kata Luine.

Secara historis, hewan laboratorium betina sering dikeluarkan dari penelitian karena siklus hormonnya dianggap terlalu kompleks dan dapat mengganggu hasil. Bidang ilmu saraf menjadi salah satu contohnya. Dalam beberapa tahun terakhir, National Institutes of Health (NIH) mewajibkan ilmuwan mempertimbangkan perbedaan jenis kelamin dalam studi manusia dan hewan yang didanai NIH, meski kemajuannya masih lambat.

Penting untuk menyertakan kedua jenis kelamin dalam penelitian agar fungsi otak dan respons terhadap faktor eksternal seperti stres dapat dipahami secara menyeluruh, kata Luine. Ia menambahkan bahwa salah satu tujuan utama studi seperti ini adalah melindungi manusia dari PTSD, dan penelitian ini mengisyaratkan bahwa pencegahan PTSD mungkin perlu disesuaikan berdasarkan jenis kelamin.

Di luar PTSD, Baram menilai penelitian ini juga dapat berdampak pada pemahaman risiko perempuan terhadap gangguan memori terkait penuaan dan demensia.

Penurunan estrogen saat menopause diperkirakan meningkatkan risiko tersebut, tetapi sebelum menopause ada fase perimenopause—periode dengan lonjakan estrogen besar. Temuan studi menunjukkan bahwa jika stres muncul saat perimenopause, kombinasi stres dan estrogen tinggi dapat berkontribusi terhadap masalah memori.

“Kita perlu mulai berpikir sedikit berbeda,” kata Baram. “Apa yang membuat perempuan pada tahap kehidupan itu lebih rentan terhadap kehilangan memori terkait penuaan?”

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan nasihat medis.

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas