Ancaman Hantavirus Bisa Terjadi di Mana Saja, Ahli Epidemiologi Ingatkan Indonesia Harus Siaga
Ramainya kabar hantavirus di kapal pesiar di Samudra Atlantik dinilai menjadi peringatan Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- Ramainya kabar hantavirus di kapal pesiar di Samudra Atlantik dinilai menjadi peringatan Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan.
- Epidemiolog ingatkan pentingnya pengawasan dari otoritas kesehatan pelabuhan untuk memastikan kapal maupun transportasi umum lainnya bebas dari hewan pembawa penyakit.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penyebaran penyakit hantavirus di kapal pesiar di Samudra Atlantik dinilai menjadi peringatan Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap ancaman penyakit zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Ahli Epidemiologi UI Pandu Riono menilai, potensi penyebaran penyakit seperti hantavirus bisa terjadi di mana saja seiring tingginya mobilitas manusia dan lemahnya pengendalian hewan pembawa penyakit di fasilitas publik.
Baca juga: Bisakah Hantavirus Jadi Pandemi? Epidemiolog Jelaskan Penularannya Berbeda dengan Covid-19
Menurutnya, keberadaan tikus sebagai pembawa virus menjadi faktor yang tidak boleh dianggap sepele, terutama di moda transportasi jarak jauh seperti kapal pesiar.
Karena itu ia menekankan, pentingnya pengawasan dari otoritas kesehatan pelabuhan untuk memastikan kapal maupun transportasi umum lainnya bebas dari hewan pembawa penyakit, salah satunya Kepala Kesehatan Pelabuhan dari Kementerian Kesehatan.
“Indonesia harus siap mengantisipasi agar semua transportasi publik, terutama yang jarak jauh, benar-benar dijamin tidak ada faktor yang memungkinkan penularan,” ujarnya saat ditemui di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (8/5/2026).
Kondisi di kapal pesiar dianggap lebih berisiko karena penumpang berada dalam ruang terbatas selama berhari-hari. Jika terdapat tikus yang membawa penyakit, maka risiko penularan terhadap penumpang meningkat.
“Di kapal itu kan orang tidak bisa ke mana-mana. Hidup bersama tikus di kapal selama berhari-hari. Kalau tikusnya membawa penyakit, ya yang tertular penumpang di kapal itu,” ujarnya.
Terkait penularan hantavirus, ia mengatakan sejauh ini penyakit tersebut masih tergolong zoonosis, yakni penularan dari hewan ke manusia. Namun ancaman yang paling dikhawatirkan adalah apabila virus mengalami mutasi dan mampu menular antar manusia.
“Kalau sudah terjadi penularan manusia ke manusia, itu bisa mewabah. Virus itu paling mudah bermutasi dan melakukan jumping species dari hewan ke manusia,” ujarnya.
Menurut dia, manusia umumnya tidak memiliki kekebalan terhadap virus baru yang berasal dari hewan. Jika virus berhasil berkembang biak di tubuh manusia dan menular antarmanusia, maka situasinya bisa sulit dikendalikan.
“Kalau sudah terjadi penularan dari manusia ke manusia, itu bisa out of control. Itu yang menakutkan,” katanya.
Di Indonesia persoalan penyakit yang berkaitan dengan tikus sudah ada diantaranya leptospirosis yang sering muncul saat banjir di Jakarta.
Pandu mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ancaman penyakit menular sebagai sesuatu yang jauh dari Indonesia hanya karena kasus pertama ditemukan di negara lain.
“Sering orang bilang itu masih jauh, kejadian di luar negeri. Padahal ada potensi ancaman yang bisa mengancam siapapun dan dimanapun,” tuturnya.
Baca tanpa iklan