Bolehkah Anak Makan Otak dan Sum-Sum? Ini Penjelasan Dokter soal Porsi dan Frekuensinya
Orang tua perlu waspada. Dokter mengingatkan jeroan mengandung kolesterol dan purin tinggi berbahaya bagi kesehatan anak.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Dokter mengingatkan jeroan mengandung kolesterol dan purin tinggi berbahaya bagi kesehatan anak.
- Otak dan sumsum tulang disebut bagian dengan kandungan kolesterol paling tinggi.
- Cara memasak daging kurban memengaruhi kadar lemak dan risiko kesehatan pada anak.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gulai otak, sate usus, hingga sum-sum tulang menjadi menu favorit saat Idul Adha.
Banyak anak juga menyukai makanan tersebut karena rasanya gurih dan lezat.
Namun di balik rasanya, ada risiko kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele jika dikonsumsi terlalu sering.
Dokter spesialis anak dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A mengingatkan bahwa beberapa bagian jeroan mengandung kolesterol dan purin tinggi.
Jeroan Tidak Bisa Dikonsumsi Setiap Hari
Menurutnya, masyarakat sering hanya fokus pada kolesterol, padahal jeroan juga bisa meningkatkan kadar asam urat dan membebani ginjal.
“Jeroan itu juga dia mengandung purin yang tinggi sehingga bisa purin itu nanti kan diolahnya dia akan dibuangnya melalui ginjal,” katanya dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (27/5/2026).
Karena itu konsumsi jeroan perlu dibatasi, terutama pada anak yang usianya lebih besar.
Baca juga: Dokter Ungkap Kolesterol Tinggi pada Anak Bisa Diam-Diam Menyerang, Ini Tanda Awalnya
Bagian yang Paling Tinggi Kolesterol
Dr. Prajnya menyebut otak dan sum-sum tulang termasuk bagian dengan kadar kolesterol sangat tinggi.
Menu seperti bone marrow yang sedang tren juga tidak boleh dikonsumsi terlalu sering.
“Kalau misalnya untuk bone marrow juga sama, mirip-mirip dengan si otak tadi,” ujarnya.
Ia menyarankan makanan tersebut hanya dikonsumsi sesekali.
Anak di Bawah 2 Tahun Boleh Konsumsi Lemak?
Menariknya, Dr. Prajnya menjelaskan bahwa anak usia di bawah 2 tahun sebenarnya belum perlu pembatasan lemak ketat.
Sebab pada usia tersebut otak anak masih berkembang pesat dan membutuhkan lemak sebagai nutrisi penting.