Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Hantavirus Sulit Dikenali, Gejalanya Mirip Flu hingga DBD, Bisa Muncul 2 Bulan Setelah Paparan

Hantavirus disebut sulit dikenali sejak awal.Gejalanyai sangat mirip dengan penyakit lain seperti flu, demam berdarah, hingga pneumonia.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Hal ini membuat banyak pasien sulit mengingat kapan dan di mana mereka kemungkinan terpapar tikus pembawa virus.

Apalagi penularan sering terjadi di tempat tertutup yang jarang dicurigai.

“Makin tertutup tempat itu, makin besar kemungkinan untuk berjadi,” ujarnya.

Bisa Menyerang Paru atau Ginjal

Ilustrasi ginjal
Ilustrasi ginjal (medanta.org)

Prof Dominicus menjelaskan penyakit akibat virus hanta dapat berbeda-beda tergantung jenis virusnya.

Di wilayah Amerika, virus hanta lebih sering menyebabkan gangguan paru berat yang disebut HCPS atau Hantavirus Pulmonary Syndrome.

“HCPS adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome. Sesuai namanya, yang terutama terjadi adalah kegagalan pernafasan,” katanya.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal paru berat dalam waktu cepat.

Rekomendasi Untuk Anda

“Kematiannya bisa mencapai separuh, 50 persen,” ujar Prof Dominicus.

Sedangkan di wilayah Eropa dan Asia, virus lebih sering menyebabkan gangguan ginjal dan perdarahan yang disebut HFRS.

“Sedangkan satunya HFRS itu sesuai namanya juga Renal Syndrome. Ini adalah gangguan ginjal,” jelasnya.

Karena gejalanya bisa menyerupai penyakit lain, diagnosis sering terlambat.

“Nanti labnya itu menurun, trubusinnya menjadi rendah seperti kasus demam berdarah,” katanya.

Hantavirus Sudah Terdeteksi Indonesia

Prof Dominicus menegaskan Indonesia sebenarnya sudah lama menemukan kasus hantavirus.

“Jadi sekali lagi, bukan barang baru,” ujarnya.

Data Kementerian Kesehatan mencatat ada 23 kasus virus hanta di Indonesia yang tersebar di sembilan provinsi.

DKI Jakarta dan Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.

“DKI mempunyai 6 kasus. Jogja juga 6 kasus,” katanya.

Namun menurut Prof Dominicus, risiko penularan luas tetap rendah.

“Karena ini bukan COVID-19, bukan influenza,” pungkasnya. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas