Mengenal Avigan, Obat dari Jepang yang Berpotensi Ampuh Perangi Hantavirus
Sederhananya, obat Avigan bertugas menghentikan proses replikasi dan penggandaan virus RNA di dalam tubuh.
Penulis:
Bobby W
Editor:
Bobby Wiratama
Selain itu, uji coba pada hewan hamster yang terinfeksi ANDV dosis mematikan menunjukkan bahwa pemberian Favipiravir oral secara signifikan meningkatkan angka kelangsungan hidup, menurunkan viral load, dan mencegah gejala klinis jika diberikan sebelum atau segera setelah terpapar virus.
Di sisi lain, kombinasi antara Favipiravir dan Ribavirin (obat standar HFRS) menunjukkan efek sinergis yang menjanjikan karena memungkinkan penggunaan dosis Ribavirin yang lebih rendah, sehingga meminimalkan efek samping bawaannya.
Meskipun hasil pra-klinis pada hewan sangat positif, bukti klinis efektivitasnya langsung pada manusia untuk kasus Hantavirus masih terbatas.
Pengirimannya ke Inggris saat ini cenderung bersifat tindakan darurat atau penggunaan khusus untuk kondisi darurat.
Riwayat Penggunaan dan Efek Samping
Nama Avigan sejatinya juga pernah melambung tinggi di awal pandemi COVID-19, meski hasil uji klinis globalnya kala itu menunjukkan hasil yang beragam.
Di Jepang sendiri, pemanfaatan obat ini dipantau secara ketat karena adanya risiko teratogenik, yaitu potensi menyebabkan cacat lahir pada janin berdasarkan studi laboratorium pada hewan.
Oleh karena itu, Avigan sangat dikontraindikasikan bagi wanita hamil atau mereka yang sedang merencanakan kehamilan.
Terkait efek sampingnya, beberapa pasien dilaporkan mengalami peningkatan kadar asam urat dalam darah (hyperuricemia), gangguan pada saluran pencernaan seperti mual dan diare, serta perubahan atau peningkatan kadar enzim hati.
Mengingat profil risikonya tersebut, penggunaan Avigan wajib berada di bawah pengawasan ketat tim medis
Baca juga: Sama-Sama Ditularkan Tikus: Ini Beda Penyakit Hantavirus, Leptospirosis, dan Pes
Pencegahan Hantavirus
Langkah Jepang mengirim pasokan Avigan ke Inggris menegaskan adanya urgensi global dalam memitigasi risiko Hantavirus.
Virus ini umumnya menular ke manusia melalui kontak langsung atau inhalasi partikel dari kotoran, urine, dan air liur tikus (rodent).
Walau kasusnya bersifat sporadis, penyakit HPS memiliki tingkat mortalitas yang sangat tinggi, yakni mencapai 40 persen.
Hingga saat ini, langkah pencegahan utama yang paling efektif adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Disclaimer: Artikel ini bukan pengganti nasihat, diagnosis, atau pengobatan medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda kepada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.
(Tribunnews.com/Bobby)