Ketum PPTI Yani Panigoro Ungkap Perjuangan Kader Para Penyembuh TBC
TBC masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Ketua Umum PPTI Yani Panigoro membagikan kisah perjuangan kader dan tantangan memberantas penyakit ini.
Editor:
Content Writer
Ringkasan Berita:Temukan Jawabannya di Artikel Ini:
- Mengapa TBC disebut sebagai penyakit senyap yang berbahaya?
- Bagaimana kaitan antara penyebaran TBC dan persoalan kemiskinan?
- Apa peran para kader PPTI dalam strategi Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS)?
- Mengapa Yani Panigoro yang berlatar insinyur bersedia memimpin PPTI?
TRIBUNNEWS.COM – Penyakit tuberkulosis (TBC) kerap luput dari sorotan banyak orang. Berbeda dari penyakit yang keluhannya muncul mendadak dan menuntut penanganan darurat, TBC justru menggerogoti tubuh sedikit demi sedikit.
Sifat senyap inilah yang membuatnya berbahaya. Tidak sedikit penderita menganggap remeh batuk berkepanjangan hingga akhirnya baru mencari pertolongan saat kondisinya sudah memburuk dan disertai batuk darah.
Bahaya itu tercermin dari posisi Indonesia di peta kesehatan dunia. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia tercatat sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia dengan estimasi 1,09 juta kasus dan sekitar 125.000 kematian setiap tahun.
Besarnya beban tersebut menuntut penanganan yang tidak bisa ditunda. Dalam podcast Ruang Rembug bersama Tribunnews, Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Yani Panigoro menceritakan perjuangan para kader PPTI dalam mendukung pemberantasan TBC di Indonesia beserta tantangannya.
Pemberantasan TBC di Indonesia dan Tantangannya
Yani Panigoro menyebut bahwa pemberantasan TBC membutuhkan partisipasi dari banyak pihak. Salah satu alasan TBC sulit ditangani sendirian adalah akarnya yang menjalar hingga ke persoalan kemiskinan. Menurutnya, karakter penularan penyakit ini memang erat berkaitan dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Karena akarnya bercabang ke berbagai aspek kehidupan, Yani menilai penanganan TBC tidak bisa dibebankan pada sektor kesehatan semata. Urusan ekonomi, pendidikan, hingga kelayakan hunian semuanya saling berkelindan.
“Misal, masyarakat dengan hunian padat tanpa ventilasi yang dihuni banyak orang menjadi lahan subur penularan. Kondisi ini diperparah minimnya paparan sinar matahari dan asupan gizi yang tidak memadai. Padahal, kalau kena matahari, bakteri TB mati," ujar Yani.
Keterkaitan dengan kemiskinan inilah yang turut membuat kasusnya melonjak dari masa ke masa. Yani menyebut, saat PPTI berdiri pada 1968, jumlah penderita TBC diperkirakan baru sebatas puluhan ribu orang, jauh dari jutaan kasus seperti sekarang.
“Ini pentingnya pemberdayaan ekonomi bagi mantan penderita (TBC) agar tidak kembali jatuh sakit. Pemberian modal usaha mikro yang disertai pelatihan keterampilan juga bisa menjadi salah satu jalan keluar,” terang Yani.
Misi Para Kader PPTI Bantu Perlawanan TBC di Indonesia
Yani menambahkan, tantangan lain datang dari proses pengobatan TBC. Pasien dituntut disiplin meminum obat setiap hari selama enam bulan tanpa terputus. Sebab, pengobatan yang tidak tuntas justru berisiko menularkan kepada orang lain.
Di sinilah peran PPTI hadir sebagai organisasi nirlaba pemberantasan TBC tertua di Indonesia. Dengan jangkau yang luas, meliputi 14 pengurus wilayah di tingkat provinsi, 64 cabang di tingkat kota, serta ratusan anak ranting, para kader di lapangan menjadi tulang punggung dari organisasi.
Pendampingan dari para kader menjadi hal krusial karena pengobatan yang terputus justru berisiko memicu penularan baru
Yani menjelaskan bahwa para kader umumnya adalah ibu-ibu biasa, bukan tenaga medis, yang terpanggil hatinya untuk bergerak di daerah dengan banyak kasus suspek TBC.
“Tugas mereka pun tidak ringan, mulai dari menemukan suspek hingga membawanya ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan. Apa yang dilakukan para kader itu merupakan bagian dari strategi Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS) dari Kementerian Kesehatan,” tutur Yani.
Pendampingan yang menuntut ketelatenan semacam itu sulit dijalankan tanpa jaringan yang luas hingga ke akar rumput. Setelah suspek ditemukan dan diobati, kader masih harus mendampingi pasien agar disiplin menuntaskan pengobatan selama enam bulan.
Yani Panigoro, Insinyur yang Meneruskan Estafet Perjuangan
Bagi Yani, dedikasi para kader sangatlah membekas selama ia memimpin PPTI, sebab mereka rela berkhidmat meski kondisi ekonominya sendiri kerap pas-pasan
Ketulusan para kader di lapangan itu rupanya berpadu dengan keteguhan sosok di pucuk pimpinan. Menariknya, orang yang memimpin organisasi ini justru bukan berlatar belakang medis.
Yani Panigoro sendiri adalah insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang malang melintang sebagai peneliti, dosen, hingga pembina usaha kecil sejak 1985. Keterlibatannya di PPTI berakar pada warisan keluarga.
Mendiang kakaknya, Arwin Panigoro, telah menaruh perhatian besar pada isu TBC sejak 1994 dan turut menyokong pendirian gedung PPTI. Estafet itu kemudian berlanjut ke sang kakak ipar, Raisis yang sempat memimpin organisasi tersebut selama 12 tahun.
Setelah keduanya berpulang, para pengurus pun datang memintanya meneruskan perjuangan itu. Yani menyanggupinya karena meyakini latar belakang teknik bukanlah penghalang untuk berkhidmat.
"Walaupun saya bukan dokter, tapi dengan pengalaman manajemen saya, InsyaAllah saya bisa menjadi Ketua Umum PPTI. Jadi, saya meneruskan legasi yang sudah didirikan oleh beliau-beliau dan pendiri-pendiri yang lain," tuturnya.
Di bawah kepemimpinannya, PPTI berupaya menjaga kemandirian finansial agar tidak semata bergantung pada donasi dan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Salah satu caranya dengan mengelola klinik bernama Jakarta Respiratory Center sebagai penopang operasional.
Semangat itu kembali ditegaskan bertepatan dengan ulang tahun ke-58 PPTI pada 20 Mei 2026, seraya menyongsong target pemerintah mewujudkan Indonesia bebas TBC pada 2030.
Yani pun optimistis target tersebut bisa dicapai apabila seluruh pihak mau bergerak bersama seperti halnya keberhasilan menekan pandemi Covid-19.
"Covid-19 saja bisa selesai karena semua pihak menurut. TB juga kalau semua pihak menurut, bisa," ujarnya.
Pada akhirnya, bagi Yani, memerangi penyakit senyap ini menuntut lebih dari sekadar program, melainkan ketulusan hati. Ia pun berpesan kepada para kader agar tidak pernah surut dalam mendampingi pasien.
"Untuk kader, jangan pernah lelah. Melihat mereka sembuh adalah kepuasan tersendiri," tuturnya.
Obrolan lengkap mengenai perjuangan PPTI dan kisah para kader di balik layar dapat disaksikan melalui tayangan podcast Ruang Rembug di kanal YouTube Tribunnews pada tautan ini.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.