Pemanfaatan AI pada Pencitraan MRI Bantu Dokter Petakan Penyakit Kompleks
Teknologi AI memungkinkan hasil pencitraan diperoleh dengan detail lebih tinggi sehingga mendukung dokter menentukan penanganan yang tepat.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Investasi teknologi kesehatan berbasis AI menjadi tren baru di industri rumah sakit Indonesia pascapandemi, terutama untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi diagnosis penyakit kompleks
- Rumah sakit mulai memperkuat layanan pencitraan medis berbasis AI yang dinilai lebih efisien dan presisi
- Teknologi ini juga mendukung penanganan penyakit tidak menular seperti stroke, kanker, dan gangguan jantung.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penguatan layanan kesehatan berbasis teknologi menjadi tren baru di industri rumah sakit Indonesia pascapandemi, seiring meningkatnya kebutuhan diagnosis yang cepat dan presisi untuk berbagai penyakit kompleks.
Rumah sakit, baik swasta maupun pemerintah, mulai memperbesar investasi pada teknologi pencitraan medis Magnetic Resonance Imaging (MRI) berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini memungkinkan hasil pencitraan diperoleh dengan kualitas gambar lebih detail serta waktu pemeriksaan yang lebih efisien.
Dokter Spesialis Radiologi Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Steven, mengatakan teknologi AI membantu dokter melakukan evaluasi medis secara lebih presisi tanpa mengurangi kenyamanan pasien selama proses pemeriksaan berlangsung.
“Teknologi kecerdasan buatan membantu dokter melakukan evaluasi medis secara lebih presisi tanpa mengurangi kenyamanan pasien selama proses pemeriksaan berlangsung,” katanya di sela perkenalan fasilitas diagnosis terbaru berupa Sistem Pemindaian MRI 3.0 Tesla (3T) Signa Hero berbasis AI di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Perketat Klaim Rumah Sakit, BPJS Kesehatan Kejar Efesiensi Rp 1 Triliun dalam 3 Bulan
Menurut dr. Steven, penggunaan teknologi AI memungkinkan hasil pencitraan diperoleh dengan detail lebih tinggi sehingga mendukung dokter dalam menentukan langkah penanganan yang tepat bagi pasien.
“Hal ini membantu kami melakukan evaluasi secara lebih presisi, sekaligus mendukung dokter klinisi dalam menentukan langkah penanganan yang tepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, teknologi MRI tersebut dapat mendukung pemeriksaan pada berbagai bidang medis yang membutuhkan pencitraan detail.
Pada bidang neurologi, teknologi ini membantu mendeteksi dan mengevaluasi kondisi seperti stroke, tumor otak, epilepsi, gangguan saraf, saraf terjepit, hingga kelainan tulang belakang.
Sementara pada bidang jantung dan pembuluh darah, MRI berbasis AI dapat membantu mengevaluasi struktur dan fungsi jantung, termasuk gangguan otot jantung, peradangan otot jantung, gangguan katup, bekas serangan jantung, hingga sejumlah kelainan jantung bawaan.
Adapun pada bidang ortopedi dan kedokteran olahraga, teknologi tersebut digunakan untuk melihat kondisi sendi, ligamen, tendon, otot, dan tulang rawan secara lebih rinci. Pemeriksaan juga dapat membantu evaluasi cedera olahraga, robekan ligamen lutut, cedera meniskus, hingga keluhan nyeri bahu, lutut, dan punggung.
Menurut dr. Steven, perkembangan teknologi pencitraan medis berbasis AI menjadi bagian penting dalam transformasi layanan kesehatan modern karena mendukung diagnosis yang lebih cepat dan akurat.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan kebutuhan masyarakat terhadap layanan diagnosis cepat dan akurat terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Rumah sakit terus memperkuat fasilitas medis melalui pemanfaatan teknologi diagnostik terkini yang mendukung ketepatan, kecepatan, serta keselamatan pasien,” ujarnya.
CEO GE HealthCare Indonesia, Kriswanto Trimoeljo, menilai pemanfaatan AI dalam pencitraan medis mulai berkembang di berbagai fasilitas kesehatan karena mampu meningkatkan efisiensi pemeriksaan dan kualitas visualisasi medis.