Anak Tidur di Ruang AC Saat Cuaca Panas? IDAI Ingatkan Risiko Dehidrasi
Udara sejuk ruang AC memang membantu anak tidur lebih nyenyak, tapi bisa membuat tubuh anak lebih mudah kehilangan cairan.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Udara dingin dan kering dari AC bisa membuat tubuh anak lebih mudah kehilangan cairan
- Karena itu, orang tua perlu lebih disiplin mengingatkan anak untuk minum air putih meski tidak merasa haus
- Orang tua sering tidak menyadari karena gejalanya tampak ringan seperti bibir kering, anak mudah lelah, sulit konsentrasi hingga jarang buang air kecil
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang tua merasa anak lebih aman dan nyaman berada di ruang ber-AC saat cuaca panas ekstrem melanda.
Udara sejuk memang membantu anak tidur lebih nyenyak dan terhindar dari hawa gerah selama musim kemarau panjang akibat El Nino.
Namun di balik kenyamanan tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan adanya risiko yang sering tidak disadari orang tua, yakni dehidrasi diam-diam akibat udara AC yang terlalu kering.
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K), mengatakan penggunaan AC memang dapat membantu mengurangi paparan udara panas maupun polusi asap saat terjadi kebakaran hutan.
Baca juga: Anak dan Lansia Rentan Dehidrasi Saat Puasa, Dokter Ingatkan Jangan Tunggu Rasa Haus Hilang
Tetapi di sisi lain, udara dingin dan kering dari AC bisa membuat tubuh anak lebih mudah kehilangan cairan.
“AC itu menciptakan udara yang dingin dan kering ya. Nah dingin dan kering ini berpotensi menyebabkan kekurangan cairan,” ujar dr. Darmawan pada media briefing virtual, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, kondisi ini sering tidak terasa karena anak tetap tampak nyaman berada di dalam ruangan.
Padahal, udara kering membuat tubuh terus kehilangan kelembaban secara perlahan.
Karena itu, orang tua perlu lebih disiplin mengingatkan anak untuk minum air putih meski tidak merasa haus.
Apalagi banyak anak yang terlalu asyik bermain, belajar atau tidur di ruangan AC sehingga lupa minum dalam waktu lama.
Udara AC Bisa Membuat Tubuh Anak Kehilangan Cairan
Lebih lanjut dr. Darmawan menjelaskan mesin AC bekerja dengan menyerap kelembaban udara di dalam ruangan.
Akibatnya udara menjadi lebih dingin namun juga lebih kering.
Kondisi tersebut memang terasa nyaman untuk bernapas, terutama saat cuaca panas ekstrem.
Namun jika berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi asupan cairan cukup, tubuh anak bisa mengalami kekurangan cairan secara perlahan.
IDAI menyebut dehidrasi tidak selalu muncul dalam bentuk anak lemas atau pingsan. Dalam banyak kasus, dehidrasi ringan terjadi diam-diam dan berlangsung terus menerus.
Orang tua sering tidak menyadari karena gejalanya tampak ringan seperti bibir kering, anak mudah lelah, sulit konsentrasi hingga jarang buang air kecil.
Padahal jika terjadi dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membebani kerja ginjal.
“Kalau kita sering ada kurangan cairan mungkin tidak terlalu ekstrim tapi terus-terusan dengan jangka panjang bisa berdampak membebani ginjal kita dan bisa menyebabkan kerusakan di kelak kemudian harinya,” jelas dr. Darmawan.
Karena itu, IDAI mengingatkan orang tua tidak hanya fokus pada suhu dingin ruangan, tetapi juga menjaga kelembaban udara dan kebutuhan cairan anak.
IDAI Sarankan Letakkan Air di Kamar Ber-AC
Untuk membantu menjaga kelembaban udara di ruangan ber-AC, dr. Darmawan menyarankan orang tua meletakkan wadah berisi air di dalam kamar.
Cara sederhana ini dinilai dapat membantu udara tidak terlalu kering.
“Maka ada aturan masukkan air ke dalam kamar yang menggunakan AC agar warm up air yang kemudian memenuhi kebutuhan kelembaban udara yang menjadi kering pada daerah yang ber-AC,” katanya.
Selain itu, anak juga perlu dibiasakan minum sedikit demi sedikit tetapi lebih sering.
Kebiasaan ini penting terutama saat musim kemarau panjang dan suhu udara terasa lebih panas dari biasanya.
Menurut IDAI, kebutuhan cairan anak selama cuaca panas tidak boleh dianggap sepele karena El Nino dapat memicu suhu lebih tinggi, udara lebih kering dan risiko kekurangan air bersih di sejumlah wilayah.
IDAI menilai masyarakat perlu memahami bahwa dampak El Nino tidak hanya soal rasa gerah atau cuaca panas.
Fenomena ini juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan pada anak.
Mulai dari dehidrasi, gangguan pernapasan akibat polusi asap, hingga peningkatan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.
dr. Darmawan menjelaskan El Nino berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih ekstrem dibanding biasanya.
Kondisi itu membuat risiko kesehatan anak ikut meningkat.
“Adanya El Nino ini berpotensi menyebabkan terjadinya kemarau yang lebih ekstrim lebih panas lebih kering dan mungkin akan berlangsung lebih lama,” ungkapnya.
Karena itu, masyarakat diminta mulai lebih waspada terhadap hal-hal kecil yang selama ini sering diabaikan, termasuk kebiasaan minum anak saat berada di ruangan ber-AC.
IDAI juga mengingatkan pentingnya langkah pencegahan sederhana di rumah agar dampak musim kemarau panjang tidak berkembang menjadi masalah kesehatan serius pada anak.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.