Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

3 Mitos Keliru Seputar Lupus yang Bisa Hambat Kesembuhan Si Penderita

Penyakit lupus masih diselimuti berbagai mitos dan stigma keliru di tengah masyarakat, sehingga berdampak kehilangan momen emas penanganan dini medis.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in 3 Mitos Keliru Seputar Lupus yang Bisa Hambat Kesembuhan Si Penderita
Pexels
KESEHATAN - Ilustrasi obat-obatan diambil dari situs bebas royalti Pexels. 

Ringkasan Berita:
  • Penyakit autoimun kronis seperti lupus membutuhkan penanganan jangka panjang agar peradangannya tidak berbalik menyerang organ-organ vital tubuh
  • Namun, informasi yang tidak tepat tersebut berdampak fatal, karena tidak sedikit pasien yang menjadi takut berobat
  • Mitos yang paling sering dijumpai adalah anggapan bahwa konsumsi obat lupus dalam jangka panjang dapat merusak ginjal

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit lupus hingga kini masih diselimuti oleh berbagai mitos dan stigma keliru di tengah masyarakat.

Informasi yang tidak tepat tersebut berdampak fatal, karena tidak sedikit pasien yang menjadi takut berobat, menghentikan konsumsi obat secara sepihak, hingga kehilangan momentum emas untuk mendapatkan penanganan medis sejak dini.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR menegaskan bahwa sebagai penyakit autoimun kronis, lupus membutuhkan penanganan jangka panjang agar peradangannya tidak berbalik menyerang organ-organ vital tubuh.

Baca juga: Lupus Banyak Serang Wanita Muda, Gejala Sepele Sering Terlambat Dideteksi

"Mitos ini banyak banget. Jadi mungkin teman-teman di media bisa membantu kami untuk bersama-sama meluruskan mitos ini," ujar dr. Sandra dalam konferensi pers Hari Lupus Sedunia yang diselenggarakan oleh AstraZeneca di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Berikut adalah tiga mitos utama seputar lupus yang dibongkar oleh dr. Sandra karena dinilai sering mengganggu proses pengobatan pasien:

1. Obat Lupus Merusak Ginjal

Rekomendasi Untuk Anda

Mitos yang paling sering dijumpai adalah anggapan bahwa konsumsi obat lupus dalam jangka panjang dapat merusak ginjal. Tekanan atau saran untuk menghentikan obat ini bahkan sering kali datang dari lingkungan terdekat pasien, seperti keluarga dan rekan kerja.

Faktanya, kondisi yang terjadi justru sebaliknya. Pengobatan medis diberikan justru untuk mengendalikan sel autoimun agar tidak merusak organ tubuh, termasuk ginjal.

"Dengan kita mengendalikan lupus, kita bisa mencegah komplikasi lupus ke organ tubuh, salah satunya ginjal. Jadi, justru dengan kita mengobati lupusnya dengan baik, kita bisa mencegah kerusakan ginjalnya, bukan menyebabkan kerusakan tersebut," terang dr. Sandra. Ia menambahkan, lupus yang tidak terkontrol jauh lebih berbahaya karena berisiko memicu gagal ginjal, gangguan jantung, paru-paru, hingga saraf otak.

2. Tidak Perlu Diobati karena Tidak Bisa Sembuh Total

Banyak pasien atau keluarga yang putus asa dan memilih menghentikan pengobatan karena mengetahui fakta bahwa lupus belum memiliki obat yang dapat menyembuhkannya secara total.

Dr. Sandra meluruskan bahwa meskipun tidak bisa sembuh seratus persen, lupus tetap harus segera diobati demi mencapai fase remisi (kondisi di mana gejala penyakit mereda atau tidak aktif).

"Lupus itu memang nggak bisa sembuh sempurna, tapi kita harus obati, justru cepat-cepat obati dengan pengobatan yang efektif. Supaya tidak terlanjur mengganggu organ. Kalau diobati dengan cepat saat masih ringan, akan lebih baik hasilnya," jelasnya. Pasien diimbau keras untuk tidak mengubah atau menghentikan dosis obat tanpa pengawasan dokter.

3. Penyandang Lupus Tidak Bisa Hamil

Mitos ketiga yang kerap memukul mental pasien perempuan usia produktif adalah vonis sosial bahwa penyandang lupus tidak akan bisa memiliki keturunan. Dr. Sandra menegaskan anggapan tersebut sepenuhnya keliru.

Perempuan dengan lupus tetap memiliki peluang untuk mengandung dan melahirkan dengan aman, asalkan kehamilan tersebut direncanakan saat aktivitas penyakitnya berada dalam kondisi stabil dan terpantau.

"Bisa hamil, asal terkendali dengan baik. Makanya dikendalikan sejak awal dengan pengobatan yang baik dan pola hidup sehat, bisa kok hamil, bisa direncanakan kehamilannya. Jadi bukan benar-benar nggak bisa hamil," kata dr. Sandra.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas