Serangan Jantung Bisa Dicegah, Dokter Ingatkan Masyarakat Rutin Cek Kolesterol dan Gula Darah
Penyakit jantung hingga kini masih menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Dokter spesialis jantung menegaskan penanganan baru dilakukan saat pasien harus pasang ring atau operasi bypass dinilai sudah terlambat.
- Skrining jantung wajib dimulai sejak usia 20-30 tahun dengan cek tensi, gula darah, dan kolesterol rutin minimal 1-2 tahun sekali.
- Guna cegah bengkaknya biaya medis, masyarakat diimbau geser pola pikir dari mengobati penyakit parah menjadi fokus pada pencegahan dini.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit jantung hingga kini masih menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Ironisnya, kesadaran akan bahaya penyakit mematikan ini sering kali baru muncul ketika kondisi pasien sudah kritis atau saat serangan jantung telah terjadi.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp. JP (K) FIHA, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena ini, menurutnya, penanganan jantung baru dilakukan ketika pasien harus dipasang ring atau menjalani operasi bypass dinilai sudah sangat terlambat.
Lantas, bagaimana cara memutus rantai keterlambatan deteksi penyakit jantung di Indonesia agar nyawa bisa terselamatkan sebelum terlambat?
Menurut dr. Bayushi, kunci utama dalam mencegah fatalitas penyakit jantung adalah dengan memperketat screening atau medical check-upn(MCU) berkala.
Baca juga: Update Kondisi Haji Bolot 14 Hari Dirawat di RS Fatmawati karena Serangan Jantung
Baca juga: Dikira Sakit Lambung karena Banyak Pikiran, Calvin Dores Kena Serangan Jantung
Deteksi dini ini harus dimulai jauh sebelum gejala klinis muncul, bahkan sejak usia muda.
Panduan skrining kesehatan jantung yang disarankan berdasarkan kelompok usia.
"Usia di bawah 20 hingga 30 tahun, minimal harus melakukan pengecekan tensi darah, gula darah, dan profil kolesterol secara berkala 1 sampai 2 tahun sekali jika hasil awal aman," kata dr. Bayushi dalam wawancara virtual, Rabu (17/6/2026).
"Usia 30 hingga 50 tahun pemeriksaan harus lebih spesifik dan mendalam," lanjutnya.
Bagi individu dengan faktor risiko tinggi seperti perokok aktif atau tingkat stres tinggi, pemeriksaan treadmill test, lab kolesterol, gula darah, hingga CT-scan jantung sangat disarankan sebagai investasi dasar kesehatan.
dr. Bayushi juga mengapresiasi langkah pemerintah yang kini menyediakan program medical check-up gratis pada hari ulang tahun masyarakat.
"Dengan melakukan screening dasar itu udah sangat baik. It's not perfect but it's a really good start. Melakukan penyaringan terhadap penyakit kritis bisa mungkin mencapai 30-50 persen ke depannya," tambahnya.
Masyarakat Gemar Rawat Inap, Padahal Belum Tentu Darurat
Keterlambatan deteksi dini tidak hanya berdampak buruk pada kondisi fisik pasien, tetapi juga memicu lonjakan biaya pelayanan kesehatan secara masif di berbagai rumah sakit pasca-pandemi COVID-19.
Lonjakan biaya medis inilah yang kemudian berimbas pada penyesuaian biaya proteksi kesehatan di masyarakat.