Tribun

Sosialisasi 4 Pilar MPR, Bamsoet: Kita Kembangkan Sikap Tepa Selira dan Semangat Gotong Royong

Dalam kehidupan demokrasi, persatuan tidak seharusnya dimaknai sebagai keseragaman yang bersifat simbolis dan atributif, tetapi pada kesatuan paradigm

Editor: Content Writer
zoom-in Sosialisasi 4 Pilar MPR, Bamsoet: Kita Kembangkan Sikap Tepa Selira dan Semangat Gotong Royong
dok. MPR RI
Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada 250 anggota Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Gedung Nusantara V, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, 30 November 2022. Turut hadir di acara itu, Ketua Umum PSMTI Wilianto Tanta dan Ketua Penyelenggara Henry Husada. 

TRIBUNNEWS.COM - Dalam kehidupan demokrasi, persatuan tidak seharusnya dimaknai sebagai keseragaman yang bersifat simbolis dan atributif, tetapi pada kesatuan paradigma dan visi kebangsaan.

Gagasan ini mengedepankan konsep wawasan kebangsaan, sebagai cara pandang yang bersifat holistik, mampu melihat setiap persoalan dari berbagai sudut pandang, dengan tetap menjadikan persatuan dan kesatuan bangsa sebagai dasar pijakan.

Hal demikian disampaikan oleh Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Parti Golkar Bambang Soesatyo saat melakukan Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada 250 anggota Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Gedung Nusantara V, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, 30 November 2022. Turut hadir di acara itu, Ketua Umum PSMTI Wilianto Tanta dan Ketua Penyelenggara Henry Husada.

Lebih lanjut dikatakan oleh Bambang Soesatyo, upaya merawat kemajemukan Indonesia harus dilandasi oleh kesadaran, bahwa keberagaman yang kita miliki adalah fitrah kebangsaan yang harus kita jaga bersama. Di sisi lain, kebersamaan sebagai sebuah bangsa juga harus ditopang oleh pondasi yang mengakar kuat, agar tidak mudah goyah oleh berbagai potensi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, pondasi tersebut mewujud pada sikap tenggang rasa (tepa selira) dan semangat gotong royong.

Menurut Ketua DPR Ke-20 itu, sikap tepa selira adalah upaya menjaga perasaan, menempatkan situasi dan kondisi diri kita pada situasi dan kondisi yang dialami orang lain, sebagai cerminan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap orang lain.

Sedangkan gotong royong adalah warisan kearifan lokal yang telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang mengedepankan kerjasama, tolong-menolong, bahu-membahu, dengan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Pria yang juga menjadi Ketua Umum IMI itu mengatakan namun kita juga menyadari, bahwa kedua pondasi tersebut hanya akan benar-benar bermakna, ketika dimanifestasikan dalam tindakan nyata, dan tidak hanya berhenti pada sebatas ide dan gagasan.

“Dalam kaitan ini, saya mengapresiasi PSMTI yang telah mengaktualisasikan sikap tepa selira dan gotong royong tersebut dalam berbagai aksi sosial dan bantuan kemanusiaan,” ujarnya.

Di masa pandemi Covid-19 misalnya, PSMTI Peduli hadir memberikan bantuan bagi masyarakat yang terdampak pandemi. Demikian juga ketika terjadi bencana alam seperti gempa bumi Cianjur, PSMTI Peduli juga hadir di tengah-tengah korban bencana alam untuk memberikan bantuan kemanusiaan.

Pria yang akrab dipanggil Bamsoet itu mengungkapkan seiring perkembangan zaman dan modernitas peradaban, upaya merajut kebersamaan dalam keberagaman masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Khususnya pada aspek ideologis, di mana masalah-masalah patogenik yang terkait dengan ideologi negara, pada umumnya berangkat dari dua isu utama.

Pertama, kelemahan kita dalam merawat dan mentransformasikan ideologi kebangsaan kita, dari mulanya rumusan-rumusan ideal abstrak, menjadi praktikpraktik kolektif kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Kedua, ketidakmampuan kita mencegah infiltrasi narasi dan gerakan kontra ideologi negara, dalam berbagai aspek dan dimensinya.

Untuk itu ditegaskan, kita harus mengakui, ada semacam kealpaan dalam konteks tersebut. Kealpaan inilah yang membuat kelompok-kelompok tertentu mudah mengintrusi dunia pendidikan, kelembagaan sosialkemasyarakatan, dan kelembagaan negara, dengan paham, ideologi dan doktrin keagamaan eksklusif yang menebarkan ancaman terhadap negara Pancasila.

“Oleh karena itu, kita tidak boleh sedikit pun mengendurkan semangat kolektivitas dalam membangun kebersamaan dan merawat persatuan, dengan merangkul segenap komponen bangsa,” ujarnya.

“Jika kita merujuk pada fakta sejarah, kunci sukses perjuangan menuju Indonesia merdeka, adalah adanya gerakan kebangsaan yang massif dan inklusif, melibatkan seluruh elemen bangsa, tidak terkecuali etnis Tionghoa, yang telah berasimilasi dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia,” tambahnya. (*)

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas