Eddy Soeparno Sebut Percepatan Transisi Menuju Energi Terbarukan Akan Perluas Lapangan Kerja
Eddy Soeparno mengatakan bahwa energi terbarukan harus jadi strategi industrialisasi nasional.
Editor:
Content Writer
TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno menegaskan pentingnya percepatan transisi energi menuju energi terbarukan.
Menurutnya, transisi ini harus menjadi strategi industrialisasi nasional yang menguntungkan industri dalam negeri.
Soeparno juga menekankan bahwa strategi tersebut perlu menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan (green jobs) bagi tenaga kerja terampil Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian kegiatan MPR Goes to Campus bersama Sekolah Pascasarjana Ilmu Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Universitas Padjadjaran.
Kampus Pascasarjana Unpad menjadi titik ke-43 dalam rangkaian kegiatan MPR Goes to Campus yang diinisiasi Eddy Soeparno.
Di hadapan lebih dari 200 mahasiswa pascasarjana Unpad, Eddy menjelaskan keunggulan komparatif Indonesia dalam energi terbarukan.
Baca juga: Sowan ke Pesantren, Wakil Ketua MPR Ibas Ingatkan Santri Harus Bisa Kuasai Sains dan Teknologi
Potensi energi terbarukan nasional mencapai ribuan gigawatt dengan komposisi signifikan dari tenaga surya, hidro, angin, bioenergi, dan geotermal. Meskipun demikian, pemanfaatannya masih jauh dari maksimal.
Selain itu, Doktor Ilmu Politik dari Universitas Indonesia ini juga menguraikan keunggulan Indonesia pada critical minerals, seperti nikel dan tembaga.
Mineral-mineral ini sangat penting untuk industri baterai kendaraan listrik, battery energy storage system (BESS), dan infrastruktur energi terbarukan. Jika rantai pasok industri ini diproduksi dan diproses di dalam negeri, transisi energi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Soeparno menekankan bahwa implementasi rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2025–2034 berpotensi menciptakan lebih dari 1,7 juta green jobs. Program ini juga diproyeksikan berkontribusi pada pertumbuhan produk domestik bruto tahunan sebesar 0,1–0,7 persen.
“Green jobs akan membuka peluang bagi nsinyur, teknisi, ahli baterai, pekerja manufaktur panel surya, operator BESS, hingga tenaga riset dan inovasi. Anak-anak muda Indonesia harus menjadi pelaku utama dan tidak hanya menjadi penonton dalam transisi menuju energi bersih ini,” ujar Eddy dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Waka MPR Ibas: Ponpes Gontor Pilar Iman, Islam, dan Nasionalisme Penguat Bangsa
Menurut Waketum PAN tersebut, RUPTL 2025–2034 yang merencanakan tambahan kapasitas terpasang sebesar 69,5 GW, dengan 42,6 GW di antaranya berasal dari energi baru terbarukan serta tambahan 10,3 GW dari BESS.
Total investasi yang dibutuhkan hingga 2034 diperkirakan mencapai sekitar 190 dollar miliar (Amerika Serikat) atau sekitar 19 dollar AS miliar per tahun .
“Angka investasi sebesar ini adalah peluang industrialisasi baru. Segenap upaya harus dilakukan agar Indonesia menjadi negara yang menarik untuk investasi di bidang energi terbarukan. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi pasar panel surya, baterai, dan turbin impor? Atau kita ingin memproduksinya di dalam negeri?” katanya.
Eddy menambahkan, sinergi antara solusi berbasis alam (nature-based solutions) dan solusi berbasis rekayasa (engineered-based solutions) dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional.
Baca tanpa iklan