Tribun

Jakarta Terkini

Kadinkes DKI Tekankan Pentingnyaa Pendataan Buku Tamu untuk Contact Tracing COVID-19

Penerapan buku tamu di tempat umum dan tempat-tempat yang sering dikunjungi warga sesuai pedoman pelacakan kontak erat.

Editor: Content Writer
Kadinkes DKI Tekankan Pentingnyaa Pendataan Buku Tamu untuk Contact Tracing COVID-19
Tribunnews.com/ Danang Triatmojo
Konferensi Pers Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti yang disiarkan langsung dari kanal Youtube Pemprov DKI, Rabu (10/5/2020). 

TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Provinsi DKI menggencarkan tracing atau pelacakan sebagai upaya penanggulangan pandemi COVID-19. Salah satu strategi yang dilakukan yakni dengan menerapkan kebijakan wajib mengisi buku tamu bagi pengunjung di hotel, restoran, kantor, dan tempat umum lainnya yang sering dikunjungi warga.

Dengan pendataan buku tamu, akan memudahkan petugas dalam melakukan pelacakan apabila ditemukan kasus terkonfirmasi positif di tempat-tempat tersebut. Dari buku tamu, petugas dapat mengetahui data nama dan nomor telepon pengunjung untuk kemudian dilacak kondisi kesehatannya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, mengatakan bahwa penerapan buku tamu di tempat umum dan tempat-tempat yang sering dikunjungi warga sesuai pedoman pelacakan kontak erat telah disusun oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dalam pedoman tersebut, setiap kasus positif akan dilakukan pelacakan kontak oleh petugas.

"Setiap kasus positif akan dilakukan pelacakannya oleh petugas Puskesmas Kecamatan domisili yang mendapatkan laporan, dengan melakukan penyelidikan epidemiologi dan investigasi kepada kasus positif serta menggali 30 kontak erat," terang Widyastuti, pada Selasa, (17/11/2020).

Pelacakan kontak erat yang dilakukan menurutnya tidak asal-asalan. Widyastuti menjelaskan, petugas dari Pemprov DKI Jakarta akan melakukan tracing secara komprehensif sesuai dengan riwayat perjalanan kasus positif, baik di lingkungan rumah, tempat kerja, sampai tempat umum yang dikunjungi.

"Sebagai contoh, jika seorang kasus positif datang ke suatu restoran dengan mengisi buku tamu beserta jam kunjungnya, maka akan lebih mudah untuk mengetahui kontak erat kasus positif yang juga berada di restoran tersebut pada jam yang sama sesuai catatan pada buku tamu," jelasnya.

Pihaknya, lanjut Widyastuti, akan melakukan pelacakan pada orang-orang di sekitar pasien yang terkonfirmasi positif selama beberapa waktu sebelum mulai gejala atau sebelum diketahuinya hasil laboratorium.

"Hasil penelusuran tadi akan menghasilkan informasi siapa saja yang memenuhi kriteria kontak erat, yang selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan swab," katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta juga telah membekali petugas tracing dengan kemampuan persuasif agar warga lebih terbuka dalam menjelaskan riwayat kontak. Karena, menurutnya, masih ada stigma negatif terhadap pasien COVID-19 di masyarakat, sehingga warga tertutup untuk menjelaskan aktivitasnya.

"Sering menyangkal/denial atau tidak membuka diri, sehingga terkadang tracing terbatas hanya di rumah tinggalnya dan tempat kerja. Padahal, ada saja kemungkinan aktivitas sosial lain dari pasien, seperti riwayat bepergian, riwayat ke tempat umum, dan sebagainya. Keberhasilan mengenali kontak erat dari pasien sangat membutuhkan kerja sama dan keterbukaan pasien atau keluarganya dengan petugas tracing yang melakukan wawancara," pungkasnya.

Selaras dengan masifnya pelacakan yang diterapkan Pemprov DKI Jakarta, Nesia, salah satu pegawai kantor di kawasan Tendean, mengaku setuju dengan pengisian buku tamu di tempat-tempat yang sering dikunjungi. Dengan adanya buku tamu tersebut, maka orang-orang yang berkativitas di tempat dan jam tertentu akan dapat terdata secara lebih baik.

"Kalau saya sangat setuju, dengan kondisi pandemi yang membuat orang semakin susah, apa susahnya sih mengisi buku tamu. Hanya menuliskan nama dan nomor telepon," kata dia.

Nesia setuju bahwa tracing merupakan salah satu kunci untuk menekan penyebaran COVID-19.  Dengan pelacakan yang masif, menurutnya, potensi penularan dapat diminimalisir. Sehingga, penyebaran virus pun tidak semakin meluas.

"Misalnya, saya menginap di hotel hari Senin, terus saya mengisi buku tamu, dan kebetulan beberapa hari kemudian diketahui ada tamu yang menginap pada hari yang sama ternyata positif, jadi saya bisa dikontak untuk diperiksa. Coba kalau tidak, susah untuk melacaknya," tuturnya.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas