Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Tujuan Terkait

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Prof. Emil Salim Serukan Pembangunan Holistik

Tokoh lingkungan hidup nasional sekaligus Pembina Yayasan KEHATI, Prof. Emil Salim kembali menyuarakan urgensi perubahan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Prof. Emil Salim  Serukan Pembangunan Holistik
Tribunnews.com
Tokoh lingkungan hidup nasional sekaligus Pembina Yayasan KEHATI, Prof. Emil Salim memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. 

TRIBUNNEWS.COM - Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema "Inspired by Nature. For Climate. For Our Future", tokoh lingkungan hidup nasional sekaligus Pembina Yayasan KEHATI, Prof. Emil Salim kembali menyuarakan urgensi perubahan mendasar dalam model pembangunan di Indonesia.

Beliau mengungkapkan kecemasannya terhadap pola pembangunan nasional saat ini yang cenderung meniru model dari negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Jepang, tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi alam khatulistiwa yang mendasar.

Menurut Prof. Emil Salim, alam Indonesia memiliki karakteristik yang senantiasa hidup dan sangat berbeda dengan alam di negara-negara empat musim yang bisa "mati" saat musim salju. Beliau menekankan bahwa alam tidak boleh sekadar dipandang sebagai objek eksploitasi pasif, melainkan harus diperlakukan sebagai subjek.

“Cara mengolah alam itu bukan dengan alam itu sebagai obyek tadi tetapi bagaimana manusia itu tumbuh memanfaatkan alam tanpa merombak fungsi kehidupan alam itu,” jelas Prof. Emil Salim. Pemahaman ini didasari oleh teori interdependensi yang menuntut berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga industri, untuk mengelola alam dengan memperhitungkan kepentingan alam itu sendiri.

Sejalan dengan tema global tahun ini, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos menegaskan bahwa alam adalah sumber inspirasi sekaligus solusi utama dalam menghadapi krisis iklim. Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan baru yang menjadikan alam sebagai fondasi pembangunan dan bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi.

"Krisis iklim yang kita hadapi saat ini merupakan peringatan bahwa pembangunan tidak bisa lagi berjalan dengan mengabaikan batas-batas ekologis," ujar Riki Frindos. "Keanekaragaman hayati Indonesia adalah aset strategis bangsa yang berperan menjaga ketahanan iklim, pangan, air, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Karena itu, investasi terbaik untuk masa depan adalah investasi pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem”.

Pentingnya kolaborasi dan pembelajaran holistik dalam menjaga alam telah dibuktikan sendiri oleh Prof. Emil Salim. Pada awal masa jabatannya sebagai Menteri Lingkungan Hidup, pandangan beliau mengenai lingkungan banyak terbentuk berkat proses belajar secara langsung dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada isu laut, darat, dan masyarakat. Lebih jauh, interaksi dengan tokoh-tokoh dunia yang memiliki pemahaman yang sama turut memperkuat wawasannya, yang pada akhirnya mendorong terbentuknya United Nations Environment Programme (UNEP) di tingkat PBB sebagai wadah saling belajar antarbangsa.

Rekomendasi Untuk Anda

Di tengah ancaman krisis global, Prof. Emil memberikan peringatan keras mengenai dampak dari proses pembangunan yang keliru. Ia menegaskan bahwa pembangunan yang mengabaikan ekosistem sering kali menyebabkan perubahan iklim yang mengubah alam ke arah yang mati. Beliau memperingatkan agar manusia tidak membangun dengan cara yang justru menjadikan alam sebagai sumber kematian bagi kehidupan manusia.

Sebagai penutup, Prof. Emil Salim menitipkan pesan khusus kepada generasi muda agar pendidikan saat ini berpusat pada pemahaman alam secara utuh untuk menghindari kerusakan akibat ketidakpahaman.

"Pandangan holistik, pandangan lingkungan hidup adalah inti untuk belajar bagi keberlangsungan hidup tanpa membunuh unsur hidup lainnya. Itulah cara pembangunan berwawasan lingkungan," pungkasnya, mengingatkan agar Ibu Pertiwi harus tetap lestari dan tidak boleh dibiarkan mati.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Artikel ini merupakan bagian dari inisiatif Lokal Asri yang berfokus pada lokalisasi nilai-nilai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pelajari selengkapnya!

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas