Batik Kerek Bukan Batik Tuban
Kecamatan Kerek Tuban Jatim terkenal dengan batik Kerek, dengan salah satu produknya yang paling di kenal adalah Batik Gedok.
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo
TRIBUNNEWS.COM, TUBAN -- Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban Jawa Timur terletak sekitar 14 kilometer dari pusat kota Tuban, dan jauh dari jalan utama di Tuban yang menghubungkan kota tersebut dengan kota-kota di sekitarnya.
Kecamatan tersebut dapat dikatakan agak terpencil. Di sini terkenal dengan batik Kerek, dengan salah satu produknya yang paling di kenal adalah Batik Gedok.
Uswatun Hasanah, salah seorang pengusaha batik dari kecamatan Kerek menuturkan bahwa saat ini bahkan banyak masyarakat yang salah presepsi menyebut batik Kerek sebagai batik Tuban. Kata Uswatun batik Tuban adalah batik yang dulunya banyak diproduksi di kelurahan Sendangharjo kota Tuban, dengan motif-motiff klasiknya. Sedangkan batik Kerek adalah batik warisan imigran Tiong Hua yang telah dimodifikasi warga Kerek.
Uswatun menjelaskan bahwa berdasarkan cerita rakyat yang telah disampaikan turun temurun di kecamatan Kerek diketahui batik tersebut sangat dipengaruhi kebudayaan Cina. Pada sekitar abad ke 14 imigran dari negri Cina memperkenalkan kain sutra dengan motiff khas Cina yang disebut Lokcan. Motif tersebut antara lain motif Burung Hong atau dikenal dengan burung Phonix, motif Guci China dan motif Daun Babar. Selain itu ada juga motif Sinlun dan yin-yang. Kesemuanya dilukis di atas Sutra dari Cina yang berwarna kebiru-biruan.
Di kecamatan Kerek sudah mengenal batik sebelum kedatangan imigran dari negri Cina itu. Namun karena sulitnya mengakses sutra Cina, masyarakat Kerek pun mengganti kain tersebut dengan kain tenun yang banyak diproduksi di Kerek. Masyarakat di Kerek juga menambahkan motif-motif baru yang jumlahnya mencapai ratusan, tiga di antaranya antara motif lain Cincin Miring, Krompol dan Sri Gunting.
Pewarnaan batik-batik tersebut memanfaatkan zat pewarna alami, seperti daun Indigo (Fabceaea) untuk warna biru dan hijau, serta zat dari kayu Mahony (Swietenia Macrophylla) untuk warna coklat.
Batik tersebut bahkan sempat berfungsi sebagai persembahan dari keluarga calon mempelai laki-laki kepada pasangannya, jumlah persembahan itu bisa mencapai seratus lembar.
Selama ratusan tahun masyarakat di Kerek memproduksi batik khas tersebut, tak ada nama khusus yang diberikan. Hingga sektar tahun 1970, masyarakat mulai menyebut batik dari kerek itu dengan sebutan batik Gedog. Kata Gedok menurut Uswatun terinspirasi dari suara hentakan kayu yang dihasilkan saat proses menenun.
Demi memperluas pasar, kain tenun pun diganti dengan kain Mori yang dapat dengan mudah di akses dan tentu dengan harga yang juga lebih murah. Batik dari kecamatan Kerek dengan bahan kain Mori menurut Uswatun kini umum disebut sebagai batik Kerek. Sedangkan untuk batik serupa berbahan kain tenun disebut dengan batik Gedok.
Kini batik Gedog sendiri termasuk batik yang tidak banyak di produksi. Di kecamatan Kerek kata Uswatun yang bisa menenun jumlahnya semakin sedikit, dan hanya di lakukan oleh perempuan-perempuan lanjut usia. Itu pun di lakukan saat musim kemarau yakni sekitar bulan Desember hingga Mei, karena pada musim panen para pengrajin gedog lebih memilih pergi bertani.
Uswatun mengaku hingga kini terus mengusahakan agar generasi muda di Kerek bisa mewarisi ilmu menenun itu. Ia menduga kaum muda di Kerek lebih suka membatik ketimbang menenun karena proses membatik jauh lebih sederhana.
Proses menenun diawali dengan memintal kapas menjadi benang. Setelahnya benag tersebut di pintal menjadi kain, yang rata-rata lebarnya 80 sentimeter dengan panjang 3 meter. Proses tersebut bisa memakan waktu berhari-hari. Setelah kain itu selesai di tenun, proses pembatikan pun di mulai. Sedangkan pada proses pembatikan sang pembatik duduk seharian di bengkel kerja dengan bermodalkan canting dan pewarna untuk melukis kain tersebut.
Baca tanpa iklan