Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Doa Mabit di Mina agar Meraih Keberkahan Saat Ibadah Haji

Jemaah haji wajib mabit di Mina selama waktu tertentu. Mabit ini dilakukan setelah mabit di Muzdalifah. Jemaah haji dianjurkan memperbanyak doa.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Doa Mabit di Mina agar Meraih Keberkahan Saat Ibadah Haji
Tribunnews.com
DOA MABIT DI MINA - Gambar dibuat di Be Funky dan Paint, Kamis (30/4/2026). Jemaah haji wajib mabit di Mina selama waktu tertentu. Mabit ini dilakukan setelah mabit di Muzdalifah. Jemaah haji dianjurkan memperbanyak doa. 

Ringkasan Berita:
  • Mabit di Mina merupakan rangkaian ibadah haji dengan bermalam pada hari-hari Tasyrik setelah dari Muzdalifah, dan dinilai sah jika jemaah berada di Mina sebagian besar malam atau sebelum fajar.
  • Karena keterbatasan area, pemerintah Arab Saudi memperluas Mina (tausi’atu Mina) yang juga dinyatakan sah oleh ulama dan Kementerian Agama Republik Indonesia.
  • Hukum mabit menurut mayoritas ulama adalah wajib dan akan dikenakan dam jika ditinggalkan, sementara Imam Abu Hanifah menganggapnya sunnah.

TRIBUNNEWS.COM - Mabit di Mina adalah ibadah yang dilakukan dengan bermalam pada malam 11 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah bagi nafar awal dan bermalam pada malam 11 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah bagi nafas tsani.

Jemaah haji wajib melakukan mabit di Mina setelah mabit di Muzdalifah.

Mina adalah daratan di dekat Muzdalifah dan Arafah, sekitar 7 kilometer dari Masjidilharam, Mekkah.

Mabit di Mina dianggap sah jika jemaah haji berada di Mina lebih dari separuh malam.

Namun, sebagian ulama berpendapat, mabit di Mina dianggap sah jika jemaah sempat berada di Mina sebelum terbit fajar yang kedua (fajar shadiq).

Mengenai lokasinya, sebagian besar jemaah haji Indonesia biasanya melaksanakan mabit di kawasan Harratul Lisan.

Rekomendasi Untuk Anda

Kementerian Haji dan Umrah menjelaskan, sejak tahun 1984, pemerintah Arab Saudi terus melakukan perluasan wilayah Mina, hingga pada tahun 2001 diperkenalkan area tambahan yang dikenal sebagai tausi’atu Mina untuk menampung jemaah.

Kebijakan ini dilakukan karena kapasitas Mina terbatas, sementara jumlah jemaah haji terus meningkat setiap tahunnya.

Bermalam (mabit) di area perluasan Mina (tausi’atu Mina) dinyatakan sah.

Keputusan ini didasarkan pada hasil Mudzakarah ulama Indonesia tentang “Mabit di Luar Kawasan Mina” yang diselenggarakan pada 10 Januari 2001 di Jakarta oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca juga: Doa Mabit di Muzdalifah, Amalan Mustajab Saat Malam Puncak Ibadah Haji

Selain itu, ulama besar seperti Abdul Aziz bin Baz dan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga memberikan fatwa yang membolehkan mabit di kawasan perluasan Mina tersebut.

Hukum Mabit di Mina Menurut Mazhab

Menurut pendapat Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, bermalam (mabit) di Mina termasuk amalan yang wajib dalam rangkaian ibadah haji.

Jika jemaah meninggalkannya, maka ada konsekuensi yang harus ditunaikan yaitu tidak mabit satu malam dikenai kewajiban membayar satu mud, dua malam dua mud, dan jika tidak mabit selama tiga malam, maka wajib membayar dam berupa penyembelihan seekor kambing.

Sementara itu, menurut Imam Abu Hanifah serta pendapat baru (qaul jadid) dari Imam Syafi'i, hukum mabit di Mina tidak sampai wajib, melainkan sunnah.

Oleh karena itu, jemaah yang tidak melaksanakannya tidak dikenai kewajiban membayar dam.

Doa Mabit di Mina

اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنِّي فَامْنُنْ عَلَى بِمَا مَنَنْتَ بِهِ عَلَى أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas