Tanpa Rica, Kawanua seperti Merana
Cabai rawit atau rica menyengat di hampir semua masakan Minahasa
Editor:
Gusti Sawabi
Seiring waktu, para pendayung kapal itu memilih menetap di Kema dan kawin campur dengan perempuan pribumi. Selera makan makanan pedas yang dibawa para pelaut Spanyol itu ternyata cocok dengan lidah orang Minahasa. Sejak saat itu, cita rasa rica tidak lepas dari lidah orang Minahasa. Selanjutnya, masakan minahasa menggunakan dua sumber rasa pedas sekaligus, goraka dan rica, yang rasanya sama-sama membakar.
Kini rica seolah menjadi bahan makanan pokok di tanah Kawanua. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara tahun 2011 menyebutkan, konsumsi rica per kapita per bulan masyarakat Sulawesi Utara mencapai 1,6 kilogram atau lebih tinggi dari konsumsi cabai nasional 1,3 kilogram per kapita per bulan. Kebutuhan rica di kawasan Minahasa sekitar 2.000 ton per bulan.
Karena tingkat konsumsi rica yang tinggi, inflasi sejumlah daerah di Sulut banyak disumbang oleh kenaikan harga rica. Data BPS Maret 2013 menunjukkan, rica menyumbang 0,85 persen pada inflasi Kota Manado sebesar 1,52 persen.
Tidak hanya menyumbang inflasi, kenaikan harga rica membuat orang Manado dan Minahasa merana. ”Sewaktu harga rica naik sampai Rp 100.000 per kilogram, saya terpaksa mengurangi makan rica. Lidah rasanya kelu, nafsu makan berkurang. Rasanya seperti orang sakit saja,” kata Dwita.
Begitulah, tiada hari tanpa sengatan pedas rica di Minahasa. (Sonya Hellen Sinombor/B Esther Julianery)
Baca tanpa iklan