Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Kisah Kawin Emas dan Sepotong Ikan Emas

Suasana tiba-tiba hening dan senyap. Tiba-tiba, samar-samar terdengar isak tangis si istri pejabat senior.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Mohamad Yoenus
zoom-in Kisah Kawin Emas dan Sepotong Ikan Emas
YouTube
Ilustrasi pasangan 

Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.

Suasana tiba-tiba hening dan senyap. Tiba-tiba, samar-samar terdengar isak tangis si istri pejabat senior.

Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta.

Para tamu yang ikut tertawa bahagia mendadak diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi.

Sang pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati istrinya dan bertanya, “Mengapa engkau menangis, isteriku?”

Setelah tangisan reda, sang istri menjelaskan, “Suamiku…sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu, aku telah melayani dalam duka dan suka tanpa pernah mengeluh," ujar seorang istri.

"Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai.”

Rekomendasi Untuk Anda

Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat.

Lalu dengan mata berkaca-kaca pula, ia berkata kepada istrinya,” Isteriku yang tercinta, 50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi istriku. Aku sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu," ujarnya.

"Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.”

Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, “Demi Tuhan, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu.”

Lalu ia melanjutkan lagi, “Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan aku, jika hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.”

Akhirnya, sang pejabat memeluk istrinya dengan erat.

Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.

Mungkin saja terjadi, suami-istri yang saling mencintai dan hidup satu rumah selama bertahun-tahun lamanya, tetapi tidak ada saling keterbukaan dalam komunikasi.

Sumber: Intisari
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas