Doa Ziarah Kubur sebelum Puasa Ramadhan, Urutan, dan Adabnya
Sebelum puasa ramadhan, muslim di Indonesia biasanya melakukan ziarah kubur. Berikut urutan doa ziarah kubur dan adab ketika melakukan ziarah kubur.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Yurika NendriNovianingsih
Ringkasan Berita:
- Nabi Muhammad Saw memperbolehkan muslim melakukan ziarah kubur untuk mengingat kematian.
- Perbuatan yang dilarang adalah menjadikan ziarah kubur sebagai sarana syirik atau pemujaan/meminta-minta kepada selain Allah SWT.
- Muslim perlu mengetahui adab ziarah kubur, di antaranya mengucapkan salam, mendoakan umat muslim, tidak duduk di atas kuburan, dll.
TRIBUNNEWS.COM - Ziarah kubur sebelum puasa merupakan hal yang biasa dilakukan oleh muslim di Indonesia.
Kementerian Agama menjelaskan tidak ada dalil dalam Al-Quran dan hadis mengenai ziarah kubur sebelum puasa.
Ziarah kubur dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengingat kematian dan mendoakan para ahli kubur.
Hukum ziarah kubur adalah sunah dan dapat dilakukan bagi muslim laki-laki maupun perempuan.
Namun, tujuan ziarah kubur harus diniatkan untuk mengingat kematian, bukan untuk tujuan lain yang menjurus ke syirik.
Rasulullah Saw bersabda: “Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur. Kini, berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan akhirat.” (HR. Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)
Pada awal Islam, Rasulullah melarang ziarah kubur karena khawatir ziarah kubur dijadikan sarana untuk menyekutukan Allah.
Setelah iman orang-orang pada masa itu telah kuat, Rasulullah mengizinkan muslim melakukan ziarah kubur untuk mengingat kematian.
Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan para peziarah dianjurkan memperbanyak bacaan Alquran, dzikir, dan doa untuk para ahli kubur, semua orang yang telah meninggal dunia, dan umat Islam secara keseluruhan.
Dikutip dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah, berikut bacaan doa ziarah kubur.
Baca juga: Doa Mandi Wajib sebelum Puasa Ramadhan, Apa Ada Dalilnya?
Doa Ziarah Kubur
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
Assalaamu’alaikum daara qaumin mu’miniin, wa ataakum ma tuu’adun godaan mu’ajjaluun, wa inna insya-Allahu bikum laahiqun
Artinya: “Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni (kuburan) dari kaum mukminin. Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian niscaya akan kalian dapati esok (pada hari kiamat), dan kami Insya Allah akan menyusul kalian…” (HR Muslim)
Surat Al-Fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm (1). Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn (2). Ar-raḥmānir-raḥīm (3). Māliki yaumid-dīn (4). Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn (5). Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm (6). Ṣirāṭal-lażīna an‘amta ‘alaihim ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn (7).
Artinya: "(1) Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (2) Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. (3) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (4) Pemilik hari pembalasan. (5) Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, (7) yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat."
Al-Baqarah Ayat 1-5
الٓمّٓ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Alif Lām Mīm. Żālika al-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn. Allażīna yu’minūna bil-ghaibi wa yuqīmūnaṣ-ṣalāh wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn. Wallażīna yu’minūna bimā unzila ilaika wa mā unzila min qablika wa bil-ākhirati hum yūqinūn. Ulā’ika ‘alā hudam mir rabbihim, wa ulā’ika humul-mufliḥūn.
Artinya: "Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, serta mereka yakin akan adanya akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung."
Surat Al-Ikhlas
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
Qul huwallāhu aḥad (1). Allāhuṣ-ṣamad (2). Lam yalid wa lam yūlad (3). Wa lam yakun lahu kufuwan aḥad (4).
Artinya: "(1) Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa.” (2) Allah tempat bergantung segala sesuatu. (3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. (4) Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya."
Surat Al-Falaq
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾
Qul a‘ūdzu birabbil-falaq (1). Min syarri mā khalaq (2). Wa min syarri ghāsiqin idzā waqab (3). Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad (4). Wa min syarri ḥāsidin idzā ḥasad (5).
Artinya: "(1) Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,” (2) dari kejahatan makhluk-Nya, (3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (4) dan dari kejahatan para penyihir yang meniup pada buhul-buhul, (5) serta dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki."
Surat An-Nas
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾
Qul a‘ūdzu birabbin-nās (1). Malikin-nās (2). Ilāhin-nās (3). Min syarril-waswāsil-khannās (4). Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās (5). Minal-jinnati wan-nās (6).
Artinya: "(1) Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,” (2) Raja manusia, (3) Sembahan manusia, (4) dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, (5) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (6) dari golongan jin dan manusia."
Doa untuk Orang Meninggal Laki-laki
اَللّٰهُمَّ ٱغْفِرْلَهُ وَٱرْحَمْهُ وَعَافِهِ وَٱعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَٱغْسِلْهُ بِٱلْمَاءِ وَٱلثَّلْجِ وَٱلْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ ٱلْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى ٱلثَّوْبُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِّن دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِّنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِّن زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ ٱلْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ ٱلْقَبْرِ وَعَذَابِ ٱلنَّارِ
Allāhumma’ghfir lahu, warḥamhu, wa ‘āfihi, wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi‘ mudkhalahu, waghsilhu bil-mā’i wath-thalji wal-barad. Wanaqqihi minal-khaṭāyā, kamā yunaqqath-thawbul-abyadhu minad-danas. Wa abdilhu dāran khayran min dārihi, wa ahlan khayran min ahlihi, wa zawjan khayran min zawjihi, wa adkhilhu al-jannah, wa a‘idzhu min ‘adhābil-qabri wa ‘adhābin-nār.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia. Muliakan tempat tinggalnya, lapangkan kuburnya, mandikan dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari noda. Berikanlah kepadanya rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta siksa neraka.”
Doa untuk Orang Meninggal Perempuan
اَللّٰهُمَّ ٱغْفِرْلَهَا وَٱرْحَمْهَا وَعَافِهَا وَٱعْفُ عَنْهَا وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا وَٱغْسِلْهَا بِٱلْمَاءِ وَٱلثَّلْجِ وَٱلْبَرَدِ وَنَقِّهَا مِنَ ٱلْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى ٱلثَّوْبُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلدَّنَسِ وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِّن دَارِهَا وَأَهْلًا خَيْرًا مِّنْ أَهْلِهَا وَزَوْجًا خَيْرًا مِّن زَوْجِهَا وَأَدْخِلْهَا ٱلْجَنَّةَ وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَابِ ٱلْقَبْرِ وَعَذَابِ ٱلنَّارِ
Allāhumma’ghfir lahā, warḥamhā, wa ‘āfihā, wa’fu ‘anhā, wa akrim nuzulahā, wa wassi‘ mudkhalahā, waghsilhā bil-mā’i wath-thalji wal-barad. Wanaqqihā minal-khaṭāyā, kamā yunaqqath-thawbul-abyadhu minad-danas. Wa abdilhā dāran khayran min dārihā, wa ahlan khayran min ahlihā, wa zawjan khayran min zawjihā, wa adkhilhā al-jannah, wa a‘idzhā min ‘adhābil-qabri wa ‘adhābin-nār.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia. Muliakan tempat tinggalnya, lapangkan kuburnya, mandikan dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari noda. Berikanlah kepadanya rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta siksa neraka.”
Adab Ziarah Kubur
Muslim yang ingin melakukan ziarah kubur perlu mengetahui adab ketika ziarah kubur.
Dalam laman Kementerian Agama dan Muhammadiyah disebutkan adab ziarah kubur sebagai berikut.
1. Meluruskan Niat
Ziarah kubur harus diawali dengan niat yang benar, yaitu semata-mata untuk mendoakan ahli kubur dan mengingat kematian (muhasabah diri).
Niat menjadi penentu nilai suatu amalan, sehingga ziarah tidak boleh disertai tujuan yang menyimpang seperti mencari berkah atau meminta sesuatu kepada penghuni kubur.
“Diriwayatkan dari ‘Alqamah ibn Waqas al-Laitsy ia berkata: saya telah mendengar Umar bin Khattab ra sedang di atas mimbar dan berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”. …” (HR. Jama’ah)
2. Mengucapkan Salam kepada Ahli Kubur
Saat memasuki area pemakaman, disunnahkan mengucapkan salam kepada seluruh penghuni kubur sebagai bentuk doa dan penghormatan.
Rasulullah Saw mencontohkan hal ini ketika berziarah ke Baqi’.
“Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tiap malam gilirannya, pergi ke Baqi’ pada akhir malam, dengan ucapannya: “Assalamu’alaikum dara qaumin mukminin wa atakum ma tu‘aduna ghadan muajjalun, wa inna insya Allahu bikum lahiqun. Allahummaghfir li ahli Baqi’il Gharqad” (Semoga keselamatan bagi kamu sekalian wahai negeri kaum yang beriman, dan akan datang apa yang dijanjikan kepada kamu sekalian dengan segera. Dan sesungguhnya kami, dengan izin Allah akan menyusul kamu sekalian. Yaa Allah ampunilah penghuni Baqi’ al-Gharqad (nama kuburan)”.” (HR. Muslim)
3. Melepas Alas Kaki
Termasuk adab di pekuburan adalah menjaga sikap hormat, salah satunya dengan tidak berjalan memakai sandal di antara kuburan.
Hal ini menunjukkan penghormatan terhadap tempat peristirahatan kaum muslimin.
“Diriwayatkan dari Basyir bin al-Khasasiyyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang berjalan di antara kuburan dengan memakai kedua sandalnya, kemudian beliau bersabda; “Wahai pemakai dua sandal, lepaslah sandalmu”.” (HR. al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Ibnu Majah)
4. Menghadap Kiblat Ketika Berada di Kuburan Seseorang
Muslim dianjurkan untuk menghadap ke arah kiblat ketika berada di kuburan seseorang.
“Menilik hadis Bara’ bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk menghadap qiblat ketika pergi berziarah kubur” (HR. Abu Dawud)
5. Dilarang Duduk di Atas Kuburan
Ketika melakukan ziarah kubur, seseorang dilarang duduk di atas kuburan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis.
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sungguh seseorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya hingga tembus ke kulitnya, itu lebih baik baginya dari pada duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim)
6. Mendoakan Ahli Kubur
Tujuan utama ziarah adalah mendoakan dan memohonkan ampun bagi ahli kubur, baik yang diziarahi secara khusus maupun seluruh penghuni makam.
Rasulullah Saw bahkan mengangkat tangan dan memanjatkan doa untuk mereka.
“Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada suatu malam ke Baqi’, beliau lama berdoa, memohon ampun bagi mereka tiga kali, dengan mengangkat kedua tangannya.” (HR. Muslim)
7. Tidak Meminta kepada Ahli Kubur
Ziarah tidak boleh disertai perbuatan meminta kepada penghuni kubur atau menjadikannya perantara (wasilah) kepada Allah.
Hal ini dilarang karena termasuk bentuk penyimpangan dalam tauhid.
“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah. Sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yunus (10): 106)
Ayat ini menegaskan bahwa menjadikan selain Allah sebagai perantara ibadah adalah bentuk kesyirikan. Karena itu, ziarah kubur harus tetap dalam batas tuntunan syariat.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.