Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Kasus Kekerasan Mahasiswi UIN Riau Jadi Alarm, Ini Tips Cegah Hubungan Toksik Gen Z

Relasi yang sehat bukan tentang berapa lama bersama menghabiskan waktu dengan senang, tetapi ada rasa aman, bertumbuh, dan dihargai.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Kasus Kekerasan Mahasiswi UIN Riau Jadi Alarm, Ini Tips Cegah Hubungan Toksik Gen Z
Istimewa/Kolase: TribunPekanbaru.com/Istimewa
KASUS PEMBACOKAN - (Kiri) Tampang Raihan Muzafar (21), pembacok Farradhila Ayu Pramesti (23), mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, pada Kamis (26/2/2026) pagi. Kasus pembacokan yang dialami mahasiswi di Riau karena percintaan menjadi pengingat bagi semua, khususnya orang tua. 

Ringkasan Berita:
  • Kasus pembacokan yang dialami mahasiswi di Riau karena percintaan menjadi pengingat bagi semua, khususnya orang tua.
  • Dari fenomena yang ada, Gen Z tumbuh di era digital, dimana relasi biasanya dibangun lewat DM, story, dan notifikasi.
  • Relasi yang sehat bukan tentang berapa lama bersama menghabiskan waktu dengan senang, tetapi ada rasa aman, bertumbuh, dan dihargai.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kasus pembacokan yang dialami mahasiswi di Riau karena percintaan menjadi pengingat bagi semua, khususnya orang tua.

Psikiater Lahargo Kembaren mengungkapkan, penyebab banyaknya kasus relasi toksik yang berujung kekerasan pada generasi muda saat ini.

Baca juga: Pembacok Mahasiswi UIN Suska Riau Raihan Mufazzar Sempat Terpikir Akhiri Hidup, Kini Salat Taubat

“Kurangnya panduan dan role model menyebabkan generasi Z masa kini hilang arah bagaimana menjalin relasi yang sehat,” kata dia di Jakarta ditulis, Selasa (3/3/2026).

Dari fenomena yang ada, Gen Z tumbuh di era digital, dimana relasi biasanya dibangun lewat DM, story, dan notifikasi.

Baca juga: Kondisi Terkini Mahasiswi UIN Riau Korban Pembacokan, Dapat Pendampingan Psikolog

Kedekatan bisa terasa instan namun kedalaman relasinya belum terbangun.

Rekomendasi Untuk Anda

“Validasi online ini membuat banyak anak muda sulit membedakan mana hubungan yang sehat dan mana yang melelahkan secara emosional alias toksik,” tutur Lahargo.

Relasi yang sehat bukan tentang berapa lama bersama menghabiskan waktu dengan senang, tetapi ada rasa aman, bertumbuh, dan dihargai.

Berikut ciri-ciri relasi yang sehat:

1. Saling Menghargai Batasan (Boundaries)

Tidak ada paksaan membuka password, tidak ada tekanan untuk selalu online, tidak ada manipulasi emosional seperti “kalau kamu sayang, kamu harus…” hingga boundaries bukan tanda tidak cinta, justru itu adalah tanda cinta yang matang.

2. Bisa Menjadi Diri Sendiri

Relasi atau hubungan yang sehat membuat seseorang merasa aman mengekspresikan pendapat, tidak takut salah, dapat menjadi versi terbaik diri sendiri atau tidak harus berpura-pura.

“Jika seseorang merasa harus terus “menyesuaikan diri” agar tidak ditinggalkan, itu tanda relasi mulai tidak sehat,” ungkap dia.

3. Konflik Tidak Berujung Ancaman

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas