Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Insiden KRL Vs KA Argo Bromo Picu Trauma Psikologis, Waspada Jika Mulai Keringat Dingin dan Gemetar 

-- Insiden tabrakan KRL Vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam tidak hanya menimbulkan luka pada fisik dan mental.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Insiden KRL Vs KA Argo Bromo Picu Trauma Psikologis, Waspada Jika Mulai Keringat Dingin dan Gemetar 
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
GERBONG WANITA - Penumpang berada di gerbong khusus wanita kereta rel listrik (KRL) Commuterline Jabodetabek saat menunggu keberangkatan di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (29/4/2026). Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengusulkan pemindahan posisi gerbong khusus wanita pada KRL Commuterline Jabodetabek ke bagian tengah rangkaian. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ringkasan Berita:
  • Luka psikologis akibat trauma insiden kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo perlu diwaspadai.
  • Korban kecelakaan umumnya mengalami respons awal seperti kaget, bingung, dan disorientasi. 

 

 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Insiden tabrakan KRL Vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam tidak hanya menimbulkan luka pada fisik, tetapi juga luka psikologis yang perlu diwaspadai.

Pengalaman traumatis yang dialami penumpang, saksi, hingga keluarga korban bisa memicu berbagai respons emosional, mulai dari syok, cemas, hingga risiko gangguan stres pascatrauma jika tidak ditangani dengan tepat.

Baca juga: Penumpang KRL Gemetar, Cemas & Gugup Usai Insiden Bekasi Timur, Ini Saran Psikolog Hilangkan Trauma

Psikolog dari Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana menjelaskan, reaksi emosional tersebut  hal yang wajar ketika seseorang menghadapi peristiwa berbahaya secara tiba-tiba.

Korban kecelakaan umumnya mengalami respons awal seperti kaget, bingung, dan disorientasi. 

Rekomendasi Untuk Anda

Seiring waktu, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan, kesedihan, kemarahan, hingga kepanikan.

Respons tersebut juga bisa ditandai dengan gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, dan sesak napas sebagai bagian dari respons stres tubuh.

"Setiap individu memiliki kemampuan untuk pulih, namun tingkat keparahan peristiwa dan kondisi psikologis masing-masing," kata dia ditulis di Jakarta, Kamis (30/4).

KRL NORMAL LAGI - KRL Commuter Line relasi Angke - Cikarang di stasiun Cakung, Jakarta Timur sedang menunggu antrean masuk ke stasiun Kranji, Bekasi, Jawa Barat pada Rabu (29/4/2024).
KRL NORMAL LAGI - KRL Commuter Line relasi Angke - Cikarang di stasiun Cakung, Jakarta Timur sedang menunggu antrean masuk ke stasiun Kranji, Bekasi, Jawa Barat pada Rabu (29/4/2024). (Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini)

Saat pengalaman dirasakan melampaui batas ketahanan individu, maka risiko gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat meningkat.

Faktor lain seperti pengalaman traumatis sebelumnya, riwayat gangguan mental, serta minimnya dukungan sosial juga dapat memperbesar risiko.

Selain itu, tekanan hidup lain seperti masalah ekonomi atau akademik dapat memperlambat proses pemulihan.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah ingatan traumatis yang terus muncul, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan, menghindari hal yang berkaitan dengan kejadian.

Jika gejala tersebut berlangsung berulang dalam waktu lama segera cari bantuan profesional  agar kondisi tidak memburuk.

"Pemerintah dan pihak terkait diharapkan berperan aktif dalam menyediakan layanan pendampingan psikologis yang terstruktur bagi korban," saran Atika.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas