Doa di Bawah Mizab, Talang Emas Kabah yang Jadi Tempat Mustajab Berdoa
Jemaah haji/umrah dianjurkan memperbanyak doa ketika berada di dekat Kabah, termasuk saat berada di bawah Mizab, yaitu talang emas Kabah.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Mizab ini berfungsi untuk mengalirkan air hujan dari atap Ka’bah agar tidak menumpuk, sehingga menjaga bangunan suci tersebut tetap aman dan tidak rusak akibat genangan air.
Secara historis, Mizab sudah ada sejak masa renovasi Ka’bah oleh suku Quraisy, kemudian diperindah pada masa pemerintahan Khalifah dan para raja Islam.
Mizab yang dikenal saat ini diberi lapisan emas dan dikenal juga dengan sebutan Mizab Ar-Rahmah (Talang Rahmat), karena lokasinya berada tepat di area yang diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa.
Letaknya yang berada di atas Hijir Ismail membuat area bawah Mizab menjadi salah satu titik yang sangat istimewa di Masjidil Haram.
Banyak jamaah haji dan umrah berusaha untuk berdoa di bawahnya karena diyakini sebagai waktu dan tempat yang penuh keberkahan, meskipun tidak ada dalil yang menetapkan doa khusus di sana.
Dalam praktik ibadah, para ulama menjelaskan bahwa keutamaan Mizab bukan karena lafaz doa tertentu, tetapi karena posisinya yang berada di sekitar Ka’bah—rumah Allah yang paling mulia di muka bumi.
Karena itu, siapa pun yang berdoa di sana dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, dan permohonan hajat dengan penuh kekhusyukan.
Pahala Melihat Kabah
Ka’bah merupakan Baitullah yang pertama kali dibangun sebagai pusat ibadah umat manusia dan menjadi kiblat shalat bagi seluruh kaum muslimin di dunia.
Allah SWT memerintahkan untuk menghadap ke Masjidil Haram, yang dalam tafsir para ulama seperti Tafsir Jalalain dimaknai sebagai Ka’bah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 144.
“Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Haram.” (QS. al-Baqarah/2: 144)
Selain menjadi arah ibadah, Ka’bah juga memiliki keutamaan spiritual, di mana bahkan memandangnya disebut sebagai amal yang mendatangkan rahmat Allah SWT, sebagaimana disebut dalam beberapa riwayat bahwa Allah menurunkan rahmat bagi orang yang melihat, shalat, dan thawaf di Baitullah.
Ka’bah memiliki sejarah yang sangat mulia sejak masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang membangunnya kembali dengan penuh doa dan pengabdian, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah ayat 127.
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah/2: 127).
Selain itu, kemuliaan Kabah juga disebutkan dalam ayat lain.
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran/3: 96).
Baca tanpa iklan