Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Ayah Tak Hadir Secara Emosional, Anak Mudah Terjebak Rayuan Predator Seksual

Fenomena fatherless atau minimnya kehadiran emosional ayah dalam keluarga ternyata disebut berkaitan dengan kerentanan anak menjadi korban kekerasan

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ayah Tak Hadir Secara Emosional, Anak Mudah Terjebak Rayuan Predator Seksual
freepik.com
ILUSTRASI - Fenomena fatherless atau minimnya kehadiran emosional ayah dalam keluarga ternyata disebut berkaitan dengan kerentanan anak menjadi korban kekerasan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Indonesia dianggap negara fatherless atau minimnya kehadiran emosional ayah dalam keluarga.
  • Fenomena ini, disebut berkaitan dengan tingginya kerentanan anak menjadi korban kekerasan seksual.
  • Banyak anak korban kekerasan seksual berasal dari keluarga yang kehilangan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Fenomena fatherless atau minimnya kehadiran emosional ayah dalam keluarga ternyata disebut berkaitan dengan tingginya kerentanan anak menjadi korban kekerasan seksual.

Hal ini diungkapkan Intan Hadiah Rastiti, SH dari Yayasan KAKAK berdasarkan pengalaman pendampingan korban selama bertahun-tahun.

Baca juga: Upaya Mawar De Jongh Dalami Peran Anak Fatherless di Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

Menurut Intan, banyak anak korban kekerasan seksual berasal dari keluarga yang kehilangan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.

“Indonesia itu negara yang fatherless. Ada bapaknya, tapi nggak ada jiwanya,” ujar Intan dalam podcast Momspiration yang tayang secara langsung di YouTube Tribunnews dan Tribun Health, Senin (11/5/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan sekadar teori, tetapi terlihat jelas dalam data kasus yang mereka dampingi.

“Kalau ngomongin data, anak-anak kami 90 persen berasal dari keluarga yang broken,” katanya.

Namun ia menekankan bahwa keluarga broken bukan satu-satunya penyebab.

“Dari 10 persen yang tersisa, ayahnya ada tapi tidak ada perannya,” ujarnya.

Menurut Intan, anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah menjadi lebih rentan mencari validasi dari laki-laki lain di luar rumah.

“Anak-anaknya tidak punya figur ayah. Dia lebih rentan dengan kekerasan seksual,” katanya.

Anak akhirnya mudah merasa spesial ketika mendapat perhatian sederhana dari laki-laki dewasa.

“Ketika dia melakukan pujian kepada aku itu sesuatu yang luar biasa,” ujar Intan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas